<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-17571028</id><updated>2011-04-21T19:10:15.622-07:00</updated><title type='text'>Si Bapak Presdir</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pak-presdir.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pak-presdir.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>HaMDiY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06463712906356541099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/144/6092/640/Resize%20of%20Gwe2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17571028.post-112961023260692610</id><published>2005-10-17T21:35:00.000-07:00</published><updated>2005-10-17T21:37:12.606-07:00</updated><title type='text'>Update info..</title><content type='html'>Haii,, cuma mau bilang aja, gwe udah nambahin post baru tuuhh.. Gwe emang sengaja buat post barunya di bawah, biar klo yang baru baca, enak bacanya, hehe.. Udah gwe tambahin lanjutan bab 3nya tuh, dan juga udah ada sedikit bab 4.. ThanQue for ur attention.. =D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17571028-112961023260692610?l=pak-presdir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pak-presdir.blogspot.com/feeds/112961023260692610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17571028&amp;postID=112961023260692610' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112961023260692610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112961023260692610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pak-presdir.blogspot.com/2005/10/update-info.html' title='Update info..'/><author><name>HaMDiY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06463712906356541099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/144/6092/640/Resize%20of%20Gwe2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17571028.post-112867620594321102</id><published>2005-10-07T02:07:00.000-07:00</published><updated>2005-10-12T03:05:54.936-07:00</updated><title type='text'>Introduction..</title><content type='html'>Haaii...&lt;br /&gt;Ini adalah blog gwe, yang memuat draft novel gwe.. tepatnya calon novel gwe deeng, hehe.. Belom ada judulnya, ntar gwe pikir2 dulu.. Atau ada yang mau usul? [Tau ceritanya aja ngga, hehe..]&lt;br /&gt;Ini baru dikit siiy, tapi yaa, gapapa, baca aja buat iseng.. Gwe pengen tau, apa cara penulisan gwe enak dibaca atau ngga.. Sapa tau kaku atau ga asyik, soalnya gwe kalo baca novel terus gaya nulisnya ga asyik jadi males bacanya, hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya udah, have a good reading, mending sih save aja ke word biar ga mau ngabisin waktu pas OnLine..&lt;br /&gt;Dan kalo emang mau komentar, saran atau kritik, silahkan saja, gwe mengucapkan terima kasih banyak sebelumnya.. Boleh komentar di tiap akhir bab, atau komen keseluruhan cerita disini.. ThanQue.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17571028-112867620594321102?l=pak-presdir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pak-presdir.blogspot.com/feeds/112867620594321102/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17571028&amp;postID=112867620594321102' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112867620594321102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112867620594321102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pak-presdir.blogspot.com/2005/10/introduction.html' title='Introduction..'/><author><name>HaMDiY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06463712906356541099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/144/6092/640/Resize%20of%20Gwe2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17571028.post-112867416256275988</id><published>2005-10-07T01:33:00.000-07:00</published><updated>2005-10-17T21:05:55.856-07:00</updated><title type='text'>Bab I</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;Bab I&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Saya kira cukup sekian apa yang perlu saya sampaikan pada kesempatan perdana ini, terima kasih untuk perhatiannya, dan juga mohon kerja samanya. Terima kasih.” Aku berjalan mondar-mandir sambil mengulang kalimat terakhir pidato yang akan kusampaikan dalam kurang dari setengah jam lagi.&lt;br /&gt;Tarik nafas,&lt;br /&gt;hmph,,&lt;br /&gt;buang,&lt;br /&gt;huff,,&lt;br /&gt;ulangi lagi,&lt;br /&gt;hmph,,&lt;br /&gt;huff,,&lt;br /&gt;Ok, don’t panic! Jangan grogi, no time for nervous now,, you know you can do it, man, kataku dalam hati, untuk menenangkan pikiranku dan membangkitkan kepercayaan diriku.&lt;br /&gt;Huff,, aku memandang ke sekeliling, ruangan berukuran 6x8m2, dengan nuansa minimalis dan dominasi warna hitam-putih. Meja kerja berwarna coklat tua berukuran raksasa berada hampir di sudut kanan ruangan, dilengkapi kursi kerja yang terlihat sangat empuk, dan dibelakangnya terlihat dinding kaca yang memperlihatkan view jalan sudirman dari lantai 7. Kamar mandi di sudut kiri ruangan, disebelahnya terdapat meja tamu kecil dikelilingi oleh 2 sofa panjang, dan 2 sofa single.&lt;br /&gt;Aku terkagum-kagum dengan ruangan ini, hampir tak dapat mempercayai aku berada disini. Lebih tidak percaya lagi ketika melihat ukiran kayu yang mewah di atas meja kerja bertulisan “Andiajsyah Avicenna”, dibawahnya bertulisan “President Director”, yang dipisahkan garis lurus ditengahnya. Itu namaku, dan juga jabatan yang akan aku pegang di perusahaan ini, TorQue inc, perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi bangunan. What?? Me? The CEO? How could it be? Pertanyaan2 itu biasanya diajukan kepadaku ketika orang menanyakan pekerjaanku sekarang. Yaah, aku sendiri pun tidak percaya. Well, maybe someone’s wish me a good luck is heared by God, coz He really gave me a very very good luck. Imagine this, menjadi seorang pria yang baru akan berumur 27 tahun beberapa bulan lagi, yang baru saja menyelesaikan study S2nya, dan tidak mempunyai pengalaman kerja sama sekali sebelumnya, tiba-tiba saja menjadi Presiden Direktur? Apalagi namanya kalau bukan a very very good luck, or should I called it miracle?&lt;br /&gt;I don’t know what that really is, but that sure is fate, my fate! This is really a dream comes true, karena sejak dahulu memang aku tidak pernah berencana bekerja kantoran, sebagai bawahan. Sejak menjalankan study S1-ku, aku selalu menginginkan setelah aku lulus nantinya, sebisa mungkin tidak mencari pekerjaan, atau menambah angka pengangguran Indonesia, justru sebaliknya, sebisa mungkin dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Namun, bukan seperti ini yang kukhayalkan dulu, yang kupikirkan dahulu adalah membuka usaha, dengan modal sendiri [yang maksudnya meminjam dari orang tua], usaha yang kira-kira dapat terus berkembang. Namun, sepertinya hal itu tidak sempat terjadi, takdir menghendaki lain. Takdir ternyata mempertemukan aku dengan Rama di men’s dorm kampus University of  Hamburg, Jerman, yang kemudian menjadi sahabat terbaikku selama S2. Kamar kami bersebelahan di dorm, sehingga otomatis menyebabkan kami berkenalan. Rama, temanku berbagi cerita, terutama about sharing thoughts, karena kami senang sekali berteori. Kemudian ia kembali ke Indonesia setahun lebih dulu daripada aku, dan kita sempat tidak berhubungan sama sekali dalam setahun itu, karena aku sibuk mengerjakan tesisku, sementara ia sudah lulus dan diminta kembali ke Indonesia oleh ayahnya, untuk melanjutkan bisnis. Pramantya Chandradinata, atau Rama, adalah putra tunggal Adityawan Chandradinata, pemilik jaringan perusahaan Savoir-Faire Group, yang bergerak dibidang obat-obatan dan kesehatan, manufaktur dan juga konstruksi bangunan dan jalan raya. Tiba-tiba saja sekitar sebulan kemarin, aku mendapat email dari Rama, yang menanyakan kabarku, apakah aku sudah menyelesaikan kuliahku dan sudah kembali ke Indonesia. Dan dia memberikan nomornya, dan berpesan padaku untuk segera menguhubunginya secepatnya setelah aku sampai di Indonesia. Aku pun kemudian menghubunginya, dan beberapa hari setelahnya kami bertemu di sebuah foodcourt mall di kawasan selatan Jakarta. Aku masih mengingat jelas percakapan kami waktu itu. Setelah berbasa-basi sebentar, sampailah Rama pada topik utama.&lt;br /&gt;            “Lo udah tau mau buat usaha apaan, Ndi?”&lt;br /&gt;            “Belom tau nih Ram, pusing juga gwe jadinya.. Any idea?”&lt;br /&gt;            “Hump.. Emang lo beneran ga mau kerja dulu, buat nyari pengalaman?”&lt;br /&gt;            “Yeaah, gimana ya Ram? Lo kan tau gwe, ga suka kerja dibawah orang! I want to be boss of my own, hehe.. Syukur-syukur punya anak buah.. Hehe..”&lt;br /&gt;            “Yeah, rite.. I know you.. Gwe sebenernya mau nawarin kerjaan buat lo, lumayan kan buat ngisi waktu sementara dan buat pengalaman untuk CV lo nanti..” Muka Rama terlihat soo mysterious..&lt;br /&gt;            “Emang kerjaan apaan? Di kantor lo? Jadi apaan? Masa iya lo tega banget ngejadiin gwe kacung lo, hehe..” Aku bertanya agak penasaran. Ku pikir, mungkin Rama benar juga, sebelum membuka usaha sendiri, to be a good leader, I’ve to learn first. Well, lagian enak juga kalo kerja sama temen, kalo ga suka kan tinggal bilang, dan cabut deh klo mau, hehe..&lt;br /&gt;            “Bukan di kantor gwe. Tapi masih group bokap sih. Dad lagi nyari orang tuh, soalnya minggu lalu si Pak Firman tiba-tiba mengundurkan diri, ga jelas gitu kenapa. Dia bilang mau pensiun lebih dini aja, mau keliling dunia sama istrinya. Itu emang impiannya dari dulu, dia bilang takut ntar ga sempet mewujudkan. So, Dad kelimpungan deh nyari penggantinya, dia sampe nyuruh-nyuruh gwe nyariin. Dikira gampang kali nyari pengganti orang kaya Pak Firman..”&lt;br /&gt;            “Ooh, gitu.. Btw, emang si Pak Firman itu apaan jabatannya sih? Kenapa si bokap lo segitu kelimpungan as if he loss all his key worker-nya aja.. Ada-ada aja bokap lo!”&lt;br /&gt;            “Presiden Direktur..” kata Rama tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;            “Ooh..” Aku meng-oo tanda mengerti, sambil mengangguk-ngangguk, dan kemudian, “ WHATT?? You told me to fill the CEO position? Are you crazy or what?”&lt;br /&gt;Okay, kayanya reaksiku berlebihan, coz hampir semua orang di foodcourt ini menoleh ke arahku dan Rama.&lt;br /&gt;            “Hoi Ndi, calm down dong! Behave man..” Reaksi Rama cuma gitu doang.&lt;br /&gt;            “Sorry Ram, cant help it. Okay,, lets get this straight.. Tadi lo nawarin gwe kerjaan, kemudian lo bilang kerjaannya buat gantiin Pak Firman, yang jabatannya Presiden Direktur itu?”&lt;br /&gt;            “Iya, emang kenapa?”&lt;br /&gt;            Oough, jadi gemes nih sama Rama. *Heei, I’m not gay!* Bisa-bisanya reaksinya cuma gitu doang, like things like this happen everyday. What the hell?&lt;br /&gt;            “Lo udah gila kali ya! Masa iya nyuruh gwe jadi Presdir? Gwe, Ram? Nyang booneng lo?” Kebiasaan lama bin jadul gwe keluar.&lt;br /&gt;            “Iyee, bawel banget sih lo kaya cewe. Emangnya kenapa sih? Anything’s wrong with that?”&lt;br /&gt;            “Absolutely! They all wrong! How could you even think about that?”&lt;br /&gt;            “Ndi, lo temen gwe. Daan, lebih dari itu, I know you! From all of the things and thoughts you’ve sharing with me, gwe tau lo bisa untuk ngisi posisi itu. Just that simple!”&lt;br /&gt;            “Hell yeah, you crazy! Ram, hello! This is me, Andi. Man with no experience AT ALL dalam dunia kerja. What do you expect from me?” Aku menekankan kata ‘at all’.&lt;br /&gt;            “Yeah, I realize that, you stu! It doesn’t matter if you have no experience, justru ini bakal jadi pengalaman lo. Yang dibutuhin disini bukan pengalaman, its all about hard and smart working, conceptual skill, that I believe you have it, problem solving and decision making, dan karisma sebagai pemimpin. Yah, ga usah karisma sih, jiwa kepemimpinan aja deh, karisma kebagusan buat lo!”&lt;br /&gt;            “Okay, anggap aja gwe punya semua yang lo bilang itu. Tapi gimana dengan keterbatasan gwe? Pengalaman itu penting tau, buat orang jadi lebih ‘jago’. What if kalo ada suatu masalah dan gwe ga bisa menyelesaikannya? Or even worse, gimana kalo sejak awal gwe pimpin, perusahaan itu jadi rugi? Btw, forgot to asked, perusahaan apaan sih?” Aku baru sadar, dari tadi main ngomong-ngomong aja, padahal aku ga tau perusahaan apa.&lt;br /&gt;            “TorQue Inc, konstruksi bangunan. Lo tau kan? Lagian itu masih bidang lo kan? S1 lo teknik sipil, rite? Dan ditambah lagi S2 lo dibidang Human Resources, that makes you have a value added.”&lt;br /&gt;            “Hah? That TorQue? You know it’s a biiig construction company.. Why take a risk?”&lt;br /&gt;            “Ndi, please deh. Kok lo jadi cupu gini sih? Lo sendiri yang dulu bilang ke gwe, jangan pernah takut sama sesuatu yang belum pasti terjadi. Gimana sih lo?”&lt;br /&gt;            “Bukan gitu Ram. Tapi ini bener-bener a big thing for me. Emang sih gwe akuin gwe takut ga sanggup menanggung beban itu, tapi ketakutan itu kan beralasan. Dulu gwe bilang jangan takut sesuatu yang belum tentu terjadi kalo ga beralasan, atau alasannya ga cukup kuat. Sementara, alesan gwe kan jelas. Gwe ga punya pengalaman sama sekali, sementara di job desc yang pernah gwe liat dikantor temen gwe, syarat untuk jadi Presdir itu pengalaman 15 tahun. LIMA BELAS tahun, Ram!” Aku menjelaskan alasanku pada Rama yang begitu keras kepala.&lt;br /&gt;“Ndi, sekali lagi gwe bilang, pengalaman emang penting, bukan segalanya. Bukannya para entrepreneur, seperti halnya diri lo, juga pada awal usahanya ga punya pengalaman? Daan, well, whether this makes you feel better, gwe juga jadi CEO tanpa pengalaman. And, not like you, gwe ga punya pilihan untuk menolak..”&lt;br /&gt;Aku terdiam beberapa saat. Begitu pun dengan Rama. Ohya, aku lupa, dia juga saat ini memimpin perusahaan inti group Savoir-Faire, Cured-First Pharmacy. Dan tentu saja bebannya sangat berat, dari kecil dia sudah difokuskan untuk melanjutkan usaha itu, tidak mempunyai pilihan seperti aku, yang dibebaskan oleh ayahku menentukan masa depanku sendiri.&lt;br /&gt;            “Oh ya, kenapa bukan Raka aja yang lo tawarin?” Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Raka adalah temanku sewaktu kuliah S1 dulu, yang kebetulan merupakan sepupu Rama. Dan sebagai informasi tambahan, Raka adalah mahasiswa terbaik diangkatanku, lulus 3,5 tahun dengan predikat cum laude. Sementara aku, lulus 5 tahun, dengan IPK standar, hump,, ok, dibawah standar malah, hehe.. Jangan ditanya berapa tepatnya. Karena ketika S1, aku memang benar-benar tidak pernah belajar, dan baru menyadari betapa gawatnya keadaanku ketika semester 8, saat semuanya terlambat, hehe.. Namun, aku memperbaiki semuanya di S2-ku, dengan usaha yang ruarr biasa, akhirnya aku pun mendapat predikat cum laude.&lt;br /&gt;            “Udah. Emang tadinya dad mau dia, tapi dia ga mau. Dia lebih senang dengan kerjaannya di McDermott itu, yang membawanya ke berbagai negara.”&lt;br /&gt;            “Ooowh..” Aku ber-oo panjang, kemudian kembali terdiam. Aku mencerna kembali semua yang kami perdebatkan tadi. This is absolutely insane! Sebenernya sih aku mau aja nerima kerjaan dari Rama, tapi jadi Presdir? Yeah, I know, it is a miracle and also an amazing luck for me, not everyone can have this chance,, but.. Chairman? Perusahaan kan bukan sesuatu yang main-main, ga bisa sembarangan jadi pemimpin disitu. Aku dulu memang bercita-cita suatu saat nanti membuka perusahaan, dimana aku menjadi pemimpin perusahaan itu, tapi bukan kaya gini caranya. Aku mau perusahaan itu milikku sendiri. Setidaknya beban yang kutanggung jika mengalami kerugian atau pailit lebih sedikit jika dibanding rasa ‘ngga enak’ kepada bokapnya Rama. Kalau itu perusahaanku, aku hanya bertanggung-jawab kepada karyawan-karyawanku, dan juga kepada pemegang saham. Tidak ada kewajiban ‘melapor ke atasan’ untuk melaporkan kegagalanku. Itu beban yang menurutku paling berat. Namun, disisi lain, sekali lagi, Rama benar, this is my chance. Untuk belajar cara memimpin yang benar, untuk mendapatkan pengalaman jadi pemimpin, dan juga ini kesempatan besar, yang hanya datang sekali seumur hidup. So, what should I’m gonna do now?&lt;br /&gt;            “Hoi Ndi, gimana jadinya? Will you dare to take this shot?”&lt;br /&gt;            “Gwe bingung Ram, lagi dilema nih, diantara dua pilihan..”&lt;br /&gt;            “Heeii, its so not you.. Where is the Andi that I know? Yang selalu PD, selalu berani ngambil kesempatan, yang ga pernah bimbang.”&lt;br /&gt;            “Ngarang aja lo Ram, mana mungkin orang ga pernah bimbang? Pernah kalee, cuma gwe aja ga pernah menunjukkan depan orang.”&lt;br /&gt;            “Iyee, terserah lo dah. So, what’s your decision? Gwe mau laporan ke dad neh! Kalo lo mau, ntar kita ke tempat dad. Dia jago banget ngeliat aura orang, bukan aura beneran sih, but somekind like intuition about judging people characters only by one conversation, so be sure you give him a good impression.”&lt;br /&gt;            “Ooh, jadi kalo gwe mau belom tentu pasti diterima? Harus ketemu bokap lo dulu?”&lt;br /&gt;            “Ya iya kalee.. Lo ngarep aja, Ndi! Emang lo kira gwe boleh sembarangan nunjuk Presdir? Gwe cuma disuruh bokap ngasih rekomendasi doang.”&lt;br /&gt;            “Ooh gitu ya, Ram? Menurut lo gimana Ram? Gwe coba apa ngga ya?”&lt;br /&gt;            “Si geblek! Jelas-jelas gwe yang rekomendasiin lo, ya terima lah!”&lt;br /&gt;Aku kembali terdiam untuk kesekian kalinya. Well, mungkin ini patut dicoba. Toh, pada akhirnya bokapnya Rama yang memutuskan. Sapa tau aja si Rama doang yang sotoy, ternyata bokapnya bilang aku tidak punya karakter buat jadi pemimpin yang baik.&lt;br /&gt;            “Ok, I’ve decided. For what its worth,, I think its worth to try..” Aku tersenyum lebar ke arah Rama.&lt;br /&gt;            “Hahah.. Gitu dong, Ndi dari tadi! Akhirnya, you’re back to Andi that I know! Ok, kita ke bogor yuk, ketemu dad..”&lt;br /&gt;            “Hah, langsung ketemu sekarang?” Aku melongo dengan muka bego.&lt;br /&gt;            “Iya, kenapa emang? Sooner is always better than later, kan? Like you always said!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok, tok, tok. Ketukan pintu itu mengembalikan aku kedalam kantorku. Aku menoleh ke arah pintu, tanpa kupersilahkan masuk, pintu itu sudah dibuka dari luar dan muncullah sesosok penjahat yang tidak tahu sopan santun itu.&lt;br /&gt;            “Hoi bro, hows everything goin’ in here?” Rama berjalan kearahku dan menepuk pundakku. Nih orang, kaya ABG aja! Mana pake senyum-senyum ga jelas banget lagi, ga tau orang lagi panik apa!&lt;br /&gt;            “Ngapain lo Ram kesini?”&lt;br /&gt;            “Bosen dikantor. Mending ngeliatin lo pidato aja, hehe..”&lt;br /&gt;            “Dasar lo, boss apaan tuh kabur-kaburan melulu kerjaannya!”&lt;br /&gt;            “Biarin, namanya juga boss, hehe.. Btw, liat pidato lo dong!” Rama langsung menarik kertas yang sedang kupegang tanpa bisa kucegah. Ia membaca cepat, kemudian berkata, “Hahah.. Typical Andi. Ya udah, good luck deh pidatonya.”&lt;br /&gt;Ketika Rama selesai berkata seperti itu, kembali terdengar ketukan pintu.&lt;br /&gt;“Masuk..” aku menyahut seperti sebagaimana seharusnya.&lt;br /&gt;Riri, sekertarisku, masuk. “Pak, semua staff sudah berkumpul di aula bawah. Hanya tinggal menunggu Bapak untuk memulai acara.”&lt;br /&gt;Aku melirik jamku, oh shit, udah jam sebelas! “Ok Ri, saya kesana sebentar lagi.”&lt;br /&gt;            “Hohoho, Pak Presiden Direktur mau beraksi nih, ayo, silahkan Pak, jalan duluan, hehe..” Rama menggodaku dengan ekspresi excited abis, kaya anak kecil menemukan mainan baru.&lt;br /&gt;            “Sial lo, Ram! Nervous niy..” Namun tetap saja aku berjalan menuju aula bawah, diikuti oleh Rama. Di depan pintu masuk aula, terlihat beberapa orang yang kukenali sebagai para direktur-direktur utama. Semua menyalamiku, dan juga Rama, kemudian mempersilahkan kami memasuki ruangan. Akhirnya kami semua berjalan masuk menuju ke dalam ruangan aula, dan langsung menuju ke depan. Rama duduk disebelahku, dan para direktur-direktur utama itu pun duduk di sofa belakangku. Aku merasa semakin gugup, duduk di depan seratusan orang dihadapanku, yang merupakan stafku sendiri. Tak berapa lama, Pak Rudi, staf PR, yang sedang bertugas sebagai pembawa acara ini, mempersilahkanku untuk memberi sambutan atau perkenalan kepada seluruh staf perusahaan ini. Rasa tidak PD menyelimuti sekujur tubuhku, aku berdiri dan berjalan menuju podium seperti mati rasa, tidak dapat merasakan apa-apa. Aku bahkan tidak dapat menangkap kata-kata yang dilontarkan Rama kepadaku. Aku sudah berdiri di podium, perasaanku mengatakan seluruh mata diruangan ini menatapku, membuatku bertambah nervous. Aku bersyukur karena bukan merupakan tipe orang yang mudah mengeluarkan keringat, sehingga aku tidak dibanjiri keringat. Tetapi, tetap saja aku seakan tidak mampu menatap lurus ke depan. Rasa percaya diriku lenyap sama sekali, aku merasa tidak dapat melakukan apa pun. Tetapi entah bagaimana caranya, aku berhasil mengucapkan salam, dan dilanjutkan dengan membaca pidatoku. Mulutku seakan punya kekuatan sendiri dan beraksi tanpa sepengetahuan otakku. Aku mulai membaca pidatoku, sampai dimana suatu titik rasa percaya diriku dan rasa rileksku kembali. Lambat laun aku mulai berhasil mengatasi keadaan, aku mulai mendengar apa yang diucapkan mulutku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “… Walau pun disini saya menjabat sebagai pimpinan tertinggi, tetapi jangan menganggap saya sebagai bos atau atasan yang harus dihormati. Anggap saja saya sebagai partner atau rekan kerja. Bahkan karena bapak-bapak sekalian yang berada dihadapan saya, dan juga tentunya Bapak-Bapak Dewan Direksi disebelah kiri saya, lebih berpengalaman dari saya, maka, justru saya yang mohon bimbingannya …”&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;“… Saya pribadi, walau tidak dapat berjanji akan dapat menjadi pemimpin yang baik, atau dapat memajukan perusahaan ini menjadi lebih baik, tetapi saya akan berusaha sekuat tenaga untuk itu. Untuk itu, sekali lagi, saya mohon bantuan dan kerja sama dari  Bapak-Bapak sekalian …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… Saya kira cukup sekian saja apa yang perlu saya sampaikan pada kesempatan perdana ini, terima kasih untuk perhatiannya, dan untuk terakhir kalinya,  saya mohon kerja samanya. Terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku berhasil menutup pidatoku, dan aku kembali ke kursiku. Aku mendengar applause menggema diseluruh ruangan, aku pun menghembuskan nafas lega.&lt;br /&gt;            “Heeii, great speech man!” komentar Rama ketika aku sudah menghempaskan tubuhku ke sofa yang empuk ini.&lt;br /&gt;“Ah, masa sih? Perasaan gwe grogi abis-abisan deh. Emang ga keliatan?” Aku agak-agak tidak mempercayai ucapan Rama barusan.&lt;br /&gt;“Ngga kok, biasa aja. Walau pun lebih cool gwe waktu pidato awal gwe dulu, tapi lo lumayan cool laah. Congrats yap!”&lt;br /&gt;Walau Rama memulai kenarsisannya, I don’t care! Yang penting menurut Rama, aku lumayan terlihat cool, alih-alih terlihat nervous. Great!&lt;br /&gt;Pak Rudi kembali menuju podium dan membubarkan orang-orang dengan kalimat lets-get-back-to-work-nya. Seluruh isi ruangan pun keluar dengan tertib, sepertinya kembali ke tempat kerjanya masing-masing, aku pun berjalan ke arah ruanganku, diikuti Rama, dan juga beberapa direksi. Namun Rama menginstruksikan mereka untuk tidak menggangguku dahulu, sehingga mereka pun memisahkan diri dari kami.&lt;br /&gt;“Whuaah, finally its over!” Aku berkata setengah berteriak ketika sudah berada kembali diruanganku dan duduk di sofa tamu.&lt;br /&gt;“Yeah, rite. One down, more to go, hehe..” Rama menimpali.&lt;br /&gt;“Hell yeah, I know. It is just the beginning. So tell me, what should I do first?”&lt;br /&gt;“Well, mana gwe tau. Lo tanya lah sama si Pak Imam, dia kan kemaren yang jadi CEO sementara buat gantiin Pak Firman. Sekarang udah balik ke jabatan semula, Direktur Operasional. Pokoknya buat rapat kecil lah, konsultasi bareng ma Direktur Finance, dan para-para direksi lain. Gwe tau lo ga bego, jangan sampe mau ditipu-tipu ma mereka ya..”&lt;br /&gt;“Ok. Thanks for the advices. Don’t worry, I’ll try to handle it.”&lt;br /&gt;“Sip deh. I trust you man!” Rama melirik jam tangannya. “Guess its time for me to go. Good luck ya, Ndi!”&lt;br /&gt;“Ok deh. See ya later, Ram!”&lt;br /&gt;Rama kembali menepuk pundakku, karena memang merupakan kebiasaannya, dan kemudian menghilang dibalik pintu ruang kerjaku. Setelah istirahat sekitar 15 menit, aku pun meminta tolong Riri untuk memanggil para anggota dewan direksi untuk rapat kecil diruanganku. 5 menit kemudian, rapat dimulai.&lt;br /&gt;-xoxoxox-&lt;br /&gt;Huhuw, akhirnya selesai juga hari yang panjang ini. Aku sudah berada dirumah, baru saja mandi dan membuang diriku ke tempat tidur. Rasanya begitu nyaman, seakan-akan aku sudah setahun tidak bertemu kasur. Aku tersenyum sambil mengingat-ingat kejadian hari ini. Mungkin aku terlihat sinting, senyum-senyum sendiri di kamar, tapi hari ini aku benar-benar senang, just like never felt this good. Aku merasa seolah-olah baru saja menyelesaikan sebuah misi penyelamatan dunia, hehe.. Well, ga segitunya sih emang, tapi rasanya hari ini aku sukses berat. Sepeninggal Rama tadi, aku rapat dengan para direksi, mencari tahu keadaan perusahaan saat ini. Semua direksi, kecuali Pak Imam, tampaknya benar-benar tulus membantuku. Keadaan perusahaan saat ini : Sedang menjalani 11 proyek, 1 proyek, sebuah gedung kantor di kawasan gatot subroto, sudah hampir selesai, tinggal finishing sedikit lagi, 9 proyek baik-baik saja, setidaknya sampai saat ini, dan 1 proyek, sebuah mall di Bogor, sangat bermasalah. Aku sampai memanggil Pak Surya, yang bertanggung jawab sebagai Project Manager mall tersebut, untuk mengetahui detail permasalahannya, dan kemudian Pak Imam mendahuluiku, tepatnya mewakili aku memarahinya, hehe.. Selain itu, segala sesuatu berjalan dengan baik disini. Pak Darmawan, Finance Director, melaporkan keadaan keuangan perusahaan, yang, pffiuuh, membuatku lega sekaligus takut. Keadaan keuangan sangat baik, tentu saja membuatku senang, namun disisi lain, perasaan takut mulai menjalariku, apakah aku dapat mempertahankan kondisi ini? Ah, aku tidak mau memikirkannya untuk saat ini. Riri, sekertarisku, banyak sekali membantuku hari ini, aku rasa hari ini merupakan hari tersibuknya selama dia bekerja, hehe.. Mulai dari mengambilkan arsip biodata dan grafik kinerja seluruh staf perusahaan ini, yang baru kuteliti sebagian, kemudian juga membuatkan janji untukku dengan Pak Firman, Presdir terdahulu yang kugantikan, dan juga membantuku dalam hal-hal kecil lainnya. Jadi kesimpulannya, hari ini aku sudah mengetahui sebagian besar keadaan yang terjadi di perusahaan. OK, laporan hari ini selesai. Aku pun menarik selimutku dan mulai memejamkan mata. G’nite!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17571028-112867416256275988?l=pak-presdir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pak-presdir.blogspot.com/feeds/112867416256275988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17571028&amp;postID=112867416256275988' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112867416256275988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112867416256275988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pak-presdir.blogspot.com/2005/10/bab-i.html' title='Bab I'/><author><name>HaMDiY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06463712906356541099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/144/6092/640/Resize%20of%20Gwe2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17571028.post-112867400056889190</id><published>2005-10-07T01:32:00.000-07:00</published><updated>2005-10-17T21:19:19.153-07:00</updated><title type='text'>Bab II</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;Bab II&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Rama baru saja sampai di pelataran parkir Bogor Raya Golf Club, Novotel Bogor. Tadinya aku mengira ayah Rama, berada di Bogor untuk keperluan bisnis, ternyata sedang bemain golf. Aku mengikuti Rama yang berjalan masuk ke dalam ruangan, dan berhenti di meja resepsionis. Rama menanyakan rombongan ayahnya ada di hole berapa, dan kemudian gadis resepsionis itu dengan cepat melihat daftar didepannya, menelepon seseorang, dan kemudian memberi tahu Rama bahwa sekarang rombongan ayahnya sedang menuju hole 17, dan menawarkan apakah kami ingin diantar menuju kesana atau mau menunggu di ruang ganti/kafe. Baru saja Rama hendak mengatakan bahwa kami akan menunggu saja, tetapi aku menyela bahwa kami minta diantar menuju kesana. Dewi, nama yang tertera di name tag resepsionis itu, mengantar kami ke tempat caddy yang sedang tidak bekerja, dan mempersilahkan kami naik ke mobil golf untuk diantar ke hole 17. Setelah mengucapkan terima kasih, aku dan Rama pun naik ke mobil.&lt;br /&gt;“Lo ngapain sih, Ndi? Orang bentar lagi juga selese, tinggal 2 hole lagi. Iseng amat seh..” gerutu Rama, walau pun dia tetap mengikutiku naik ke mobil.&lt;br /&gt;“Ya emang iseng, daripada nunggu bengong? Mendingan ngeliatin pemandangan.. Lagian gwe juga pengen nyoba naik mobil golf ini, hehe..”&lt;br /&gt;“Ya ampuun, norak banget sih anak ini. Tapi gapapa lah, caddy-nya cewe-cewe semua ooi, sadis! Pantesan aja tuh bapak-bapak pada betah.”&lt;br /&gt;Iya, ya, sedari tadi aku tidak menyadari bahwa hampir semua caddy dan pegawai di sini berjenis kelamin wanita. Apakah ini hanya terjadi disini saja, atau memang merupakan terobosan di dunia per-golf-an yang memang sudah booming? Hump,, sebelum sempat memikirkannya, mobil golf yang kami tumpangi sudah berhenti, tepat dibelakang rombongan yang sedang memperhatikan seseorang yang melakukan backswing. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ayu, caddy yang mengantarkan kami, aku dan Rama turun menghampiri rombongan tersebut. Aku mendapati beberapa wajah yang cukup familiar dalam rombongan tersebut, antara lain ayah Rama, dan ada beberapa mantan pejabat orde baru yang sekarang sudah tidak terdengar lagi kabarnya di dunia politik, sedangkan orang yang sedang mengayunkan stick golfnya itu aku kenali sebagai salah satu menteri di kabinet saat ini. Ayah Rama tampaknya baru menyadari kehadiran kami, kemudian menghentikan percakapannya dengan seseorang disebelahnya, dan menyapa Rama dengan ramah, “Aah, Rama. What brings you down here, son?”&lt;br /&gt;“Hi dad.. Ini nih, mau ngenalin Andi.. Itu lho, yang kemaren Rama bilang temen yang menurut Rama bisa jadi salah satu calon pengganti Pak Firman..” Rama mendorongku agar berdiri tepat disebelahnya.&lt;br /&gt;            “Ooh ya, I see..” Ayah Rama menimpali, kemudian melihat kearahku. Aku mengulurkan tanganku kepada ayah Rama, Adityawan Chandradinata, dan tiba-tiba saja perasaan cemas menghampiriku, aku merasa jantungku berdebar lebih kencang daripada biasanya. “Andi, oom..” Aku mendengar getaran disuaraku sendiri. Ayah Rama menjabat tanganku, dan aku merasa tekanan yang luar biasa, seakan aku sangat kecil dihadapan ayah Rama akibat karisma yang terpancar dari seorang Adityawan Chandradinata. Padahal dia tidak melakukan apa-apa, selain tersenyum kepadaku dan menjabat tanganku dengan kuat.&lt;br /&gt;            “Owhya, nice to meet you, Andi. Rama sudah menceritakan sedikit tentangmu kemarin malam.” Pak Adit kembali tersenyum. “Well, untuk menguji apakah kau pantas untuk menggantikan Pak Firman, Oom akan bertanya-tanya sedikit kepadamu, is that okay?”&lt;br /&gt;            “Oh ya, silahkan saja oom..” Masih saja terdengar getaran disuaraku.&lt;br /&gt;            “Kamu seumuran dengan Rama ya? Ngambil S1 dimana?” suara Pak Adit terdengar begitu ramah, sehingga lumayan membantuku menguasai diri kembali, aku bersyukur karena dia tidak bertanya dengan nada mengintimidasi. “Saya setahun lebih muda dari Rama oom, dulu mengambil S1 di Teknik Sipil UI..” Suaraku mulai terdengar mantap.&lt;br /&gt;            “Ooh, temannya Raka ya?”&lt;br /&gt;            “Iya, benar. Raka teman seangkatan saya, oom, tapi beda jurusan, dia jurusan mesin.” Aku sudah sepenuhnya menguasai diri, namun sekarang aku mulai jengah dengan percakapan resmi ini.&lt;br /&gt;            “Sebentar ya, giliran oom tuh yang mukul,” kata Pak Adit yang langsung berjalan meninggalkanku. Puuff,, akhirnya dapat bernafas dulu.&lt;br /&gt;            “Kenapa lo, Ndi?” tanya Rama yang sejak tadi diam saja.&lt;br /&gt;            “Gapapa, cuma ngambil nafas aja. Tadi gwe agak jiper!” Aku kemudian melihat Pak Adit melakukan ayunan dan melakukan pukulan keras, walau hole ini termasuk short hole, karena par-nya hanya 3.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=17571028&amp;postID=112867400056889190#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan pukulan, dan mendapat applause dari rekan-rekannya, Pak Adit kembali menghampiriku.&lt;br /&gt;“Maaf tadi terputus. Where were we? Ah, kamu temen S1 Raka..” jeda sebentar. “Hmm, kamu punya mimpi, nak?”&lt;br /&gt;Aku agak bingung dengan pertanyaan ini, karena sepertinya ga nyambung berat dengan kerjaanku nanti. Namun, toh, tetap saja harus kujawab.&lt;br /&gt;“Ya, tentu saja. Kebetulan saya memang seorang pemimpi, yang berarti saya mempunyai banyak mimpi,” jawabku lugas. Aku cukup bangga dengan jawabanku yang spontan muncul.&lt;br /&gt;“Ooh, okay.. So, tell me, what is your biggest dream?”&lt;br /&gt;Damn!, rutukku dalam hati. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakannya, karena biasanya orang tidak mempercayai atau menganggap serius mimpi dan cita-citaku. Bukan berarti aku malas mengatakannya karena sering ditertawakan orang, I don’t care about what they said about it, tapi masalahnya, lawan bicaraku saat ini bukanlah orang sembarangan, aku jadi sedikit malu mengatakannya, hehe..&lt;br /&gt;“Hump,,” jeda sebentar, “sebenarnya mimpi saya adalah menjadi seorang manusia yang bisa lebih bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk di dunia ini, terutama bagi kemajuan bangsa ini.”&lt;br /&gt;See? That’s my dream, my really dream! But, sometimes, some people, well, maybe most of people, think thats a bullshit! Mereka tidak percaya, seakan aku baru saja mengucapkan lelucon yang sama sekali tidak lucu. Mungkin saja sekarang Pak Adit menganggapku sinting, mencoba sok suci dan sok baik.&lt;br /&gt;“Woow, thats sure a big dream! So, tell me then, what would you do to realizes it?” Aku tidak tahu whether it is just me, atau memang nada bicara Pak Adit agak excited?&lt;br /&gt;“Wah, kalau langkah kongkretnya saya belum menemukannya, oom. Tapi, sebenernya untuk mewujudkan itu, saya mempunyai cita-cita untuk menjadi pemimpin negeri ini suatu saat nanti.” Aku tidak berani menyebut kata “Presiden RI” seperti yang biasanya aku ucapkan ke teman-temanku. Aku tidak percaya aku berani mengucapkan cita-citaku itu kepada seorang Adityawan Chandradinata. Ha, this is so weird!&lt;br /&gt;“Excellent!! You’re a great guy. Well, nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita, okay?” Pak Adit menepuk pundakku, kebiasaan yang sama seperti Rama, kemudian berjalan mengikuti rombongan yang mulai berjalan. Aku bengong sebengong-bengongnya. Tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi barusan.&lt;br /&gt;“Woow, gilee! You’ve made a very very great impression to Dad, man! Its amazing!” tiba-tiba saja Rama mengatakan itu sambil menepuk-nepuk pundakku, just like his father.&lt;br /&gt;“Hah? Apaan sih, Ram? Kok gwe ga ngerti apa-apa ya? Which part of my words that impressed your dad?” Aku masih tetep bingung, completely stupefied.&lt;br /&gt;“Well, dunno.. Yang jelas dari ekspresi dad yang gwe liat tadi, sama kaya ekspresi dad yang biasa gwe liat kalo dia lagi nemuin calon pemenang tender.”&lt;br /&gt;“Serius lo, Ram? Masa sih? Kok gwe ga percaya ma lo ya? Hehe.. Aah, lo bikin gwe ge-er aja..”&lt;br /&gt;“Idih, males banget! Ya udah lah, liat ntar aja lah klo gitu..”&lt;br /&gt;            “Yeah, hope you’re rite..”&lt;br /&gt;            “Huu.. Ga konsisten banget sih anak ini! Tadi perasaan ga PD en ga mau nerima kerjaan ini, sekarang kok jadi ngarep ya?”&lt;br /&gt;Aku tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terus berjalan mengikuti rombongan tersebut, Pak Adit mendapat par di hole 17 dan mendapat birdie&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=17571028&amp;postID=112867400056889190#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; di hole 18. Setelah menyelesaikan permainan, seluruh rombongan ke ruang ganti, sementara aku dan Rama menunggu di dekat meja resepsionis. Kemudian, setelah semua selesai, aku masih tetap mengikuti rombongan tersebut untuk makan di Gurih, salah satu rumah makan lesehan di Bogor yang bernuansa sunda. Aku dan Rama, walau pun baru saja makan di food court tadi, tetap saja ikut makan lagi, hehe.. Aku, Rama, dan Pak Adit duduk di saung yang berbeda dengan rombongan pe-golf tersebut.&lt;br /&gt;“Oh iya, Ndi, kata Rama kamu tidak tertarik untuk bekerja di perusahaan, benar begitu?” Pak Adit memulai pembicaraan setelah kami selesai memesan makanan.&lt;br /&gt;“Iya, oom. Sebenernya saya memang dari awalnya berniat jadi entrepreneur. Namun masih belum ada ide usahanya, oom.”&lt;br /&gt;“Oh, begitu. Hump,, entrepreneur ya? Kenapa entrepreneur?”&lt;br /&gt;“Waah, agak sulit nih jawabnya, haha.. Memang jiwanya sudah ada disitu, oom. Lagipula bisa lebih bebas, dan yang pasti, bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang-orang..”&lt;br /&gt;“Aah, I see.. Niat kamu mulia sekali.. Kamu punya entrepreneur idola, sebagai panutan atau acuan kamu sebagai seorang entrepreneur nantinya?”&lt;br /&gt;“Ya, ada dua orang. Herb Kelleher dan Sam Walton.”&lt;br /&gt;“Ooh.. Sam Walton pendiri Wal-Mart ya? Dan, siapa tadi seorang lagi?”&lt;br /&gt;“Iya, betul, oom. Sam Walton pendiri Wal-Mart. Sedangkan Herb Kelleher adalah pendiri Southwest Airlines, salah satu airlines di Amerika.&lt;br /&gt;“Aah, dia pendiri Southwest Airlines? Oom baru tahu tuh, padahal Southwest merupakan airline favorit oom kalau berada di Amerika, karena selain murah, pilot dan pramugarinya pun sering membuat lelucon yang cukup lucu, haha..”&lt;br /&gt;“Hah? Masa sih dad? Gimana caranya pilotnya melucu?” Rama yang sedari tadi diam dan hanya mendengarkan, tiba-tiba ikutan berkomentar.&lt;br /&gt;“Iya, bener lho, Ram! Pilotnya kadang-kadang melontarkan lelucon via interkom, can you imagine? Mana ada penerbangan  lain seperti itu? Bener kan, Ndi?”&lt;br /&gt;“Wah, kebetulan saya belum pernah naik pesawat Southwest, oom..”&lt;br /&gt; “Lho, lalu kenapa kamu bisa mengenal dan bahkan menjadikan si Herb itu sebagai panutan kamu?”&lt;br /&gt;“Beberapa tahun lalu, saya membaca buku ‘What the Best CEOs Know’, dan didalamnya termasuk cerita tentang Herb Kelleher ini, bersama Sam Walton, Bill Gates, dan beberapa orang lainnya. Dari situ, saya tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Herb, karena di buku itu dijelaskan sedikit pemikiran dan gaya kepemimpinan Herb Kelleher ini, yang menurut saya sangat hebat dan berbeda dengan yang lain. Maka, saya kemudian mencari artikel tentang dia dan Southwest-nya di internet, dan juga membaca buku Nuts, semacam biografi dirinya.”&lt;br /&gt;“Ooh.. Bisa cerita sedikit atau beri gambaran tentang Herb? Karena saya juga jadi penasaran nih, haha..”&lt;br /&gt;“Iye Ndi, gwe juga jadi pengen tau. Padahal gwe pernah liat buku Nuts lo itu padahal, cuma waktu itu lagi ga mood baca, hehe..”&lt;br /&gt;“Waah, saya tidak tahu harus menceritakan apa tentang dirinya, karena banyak sekali yang unik dari beliau. Hump,, tapi,, dua hal yang paling saya kagumi dari beliau adalah, ia berhasil menciptakan dan memajukan perusahaannya dengan budaya kekeluargaan, seakan perusahaan itu perusahaan kecil. Untuk sistem kompensasi, ia mengatakan : “Bayar eksekutif lebih sedikit dan karyawan lebih banyak.” Sedangkan untuk pelanggan, ia selalu menekankan pada karyawannya untuk jangan memikirkan laba, karena laba hanya merupakan side product dari pelayanan pelanggan, jadi fokuslah pada pelayanan pelanggan. Mungkin konsep itu sudah menggambarkan sedikit tentang beliau. Dan, oh iya, satu lagi, dalam sistem perekrutan, ia memakai tujuh kriteria utama yang sangat berbeda dengan perusahaan lain, yaitu : keceriaan, optimisme, kemampuan membuat keputusan, semangat tim, komunikasi, rasa percaya diri dan keterampilan untuk memacu diri sendiri.”&lt;br /&gt;“Hmph, sepertinya ia merupakan pribadi menarik ya? Well, kamu punya idola yang bagus, son!”&lt;br /&gt;“Terima kasih, oom.”&lt;br /&gt;Rama nyengir dan mengedipkan sebelah mata kearahku.&lt;br /&gt;“Sepertinya kamu bisa diandalkan, nak. Kalau begitu,, selamat bergabung menjadi bagian Savoir-Faire Group, glad to have you in our group, dan mohon bantuannya.” Pak Adit tersenyum dan menjulurkan tangannya kepadaku untuk memberi selamat.&lt;br /&gt;A, aa, aaa, apa? Tadi dia bilang apa? Bukan aku yang salah denger kan? Tadi dia bilang selamat bergabung menjadi BAGIAN Savoir-Faire Group? Is that for real? Just that, and voila, I’m become a President Director? Wow, gampang banget ya jadi Presdir? Tau gitu dari dulu aku bercita-cita jadi Presdir, hehe..&lt;br /&gt;Tersadar dari pikiranku, aku menjabat tangan Pak Adit, dan mengucapkan terima kasih. Pak Adit permisi untuk bergabung ke saung teman-temannya.&lt;br /&gt;“Eh, Ram, bokap lo seriusan tuh? Udah, gitu doang wawancaranya?”&lt;br /&gt;“Iye, kenapa emang?”&lt;br /&gt;“Ta, ta, ta, tapi.. Masa sih cuma gitu doang? Terus, gwe berarti udah resmi keterima jadi Pak Presdir nih? Masa sih??” aku sengaja melatahkan kata-kataku.&lt;br /&gt;“Iyee bawel.. Congrats ya, bro! Glad to have you in our group, gyahaha..” Rama sok-sok mengulang kata-kata ayahnya dengan nada dan gaya yang sama.&lt;br /&gt;Aku pun ikut tertawa. Perasaanku benar-benar tidak menentu, antara senang, bahagia, terkejut, dan juga, yang pasti, shock berat. Kemudian, Pak Adit kembali ke saung kami untuk makan.&lt;br /&gt;“Kamu sudah tahu perusahaan yang akan kamu tangani kan, Ndi?”&lt;br /&gt;“Rama sudah memberi tahu, oom. TorQue inc kan?”&lt;br /&gt;“Iya, benar. Perusahaan itu, seperti yang kamu ketahui, bergerak dibidang konstruksi. Tentunya kamu banyak tahu kan tentang itu? Nanti, untuk bertanya-tanya tentang TorQue, kamu bisa hubungi Pak Imam, Presdir sementara saat ini, atau bisa juga bertemu dengan Pak Firman sebelum ia memulai perjalanannya.”&lt;br /&gt;“Baik, oom. Oh iya, oom, hump,, sebelumnya, boleh saya minta sesuatu?”&lt;br /&gt;“Mention it, son!”&lt;br /&gt;“Begini, oom. Karena saya tidak punya pengalaman, dan juga tidak tahu peta kemampuan saya sendiri, maaf sebelumnya, kalau boleh, saya minta bayaran yang tidak terlalu tinggi, kalau bisa, jangan sampai 50% dari gaji Pak Firman.”&lt;br /&gt;“Lho, kok begitu?” Pak Adit mengernyitkan alisnya.&lt;br /&gt;“Maaf oom, bukan saya tidak menghormati keputusan oom merekrut saya. Tapi saya sendiri butuh pembuktian untuk diri saya, apakah saya benar-benar bisa menjalankan tugas saya dengan baik? Untuk itu, saya tidak ingin menerima bayaran yang melebihi jasa dan partisipasi saya untuk perusahaan, oom.”&lt;br /&gt;“Well, good thought. Oom jadi tambah yakin tidak salah memilih orang,” jawab  Pak Adit sambil tersenyum.&lt;br /&gt;Pembicaraan kami pun selesai. Selesai makan, aku dan Rama minta izin untuk pulang lebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=17571028&amp;postID=112867400056889190#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Par, jumlah pukulan dalam golf. Jika berhasil memasukkan bola dengan jumlah pukulan sama dengan par hole tersebut, nilainya 0.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=17571028&amp;amp;postID=112867400056889190#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Satu angka dibawah par (-1)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17571028-112867400056889190?l=pak-presdir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pak-presdir.blogspot.com/feeds/112867400056889190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17571028&amp;postID=112867400056889190' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112867400056889190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112867400056889190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pak-presdir.blogspot.com/2005/10/bab-ii.html' title='Bab II'/><author><name>HaMDiY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06463712906356541099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/144/6092/640/Resize%20of%20Gwe2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17571028.post-112867386423332022</id><published>2005-10-07T01:25:00.000-07:00</published><updated>2005-10-17T21:21:07.556-07:00</updated><title type='text'>Bab III</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;Bab III&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Uugghh, aku mengutuk Pa-Per, mobilku yang bernama Panah Perak, atau Pa-Per. Pagi ini aku harus menghadiri meeting bulanan dengan Dewan Komisaris, untuk pertama kalinya, dan hell no, si Pa-Per ga bisa di stater. Duh, kenapa sih dia? Bisa-bisanya dia ngambek di hari maha penting ini! Aku mengecek dinamo stater, ok kok, hump,, buka tutup accu,, damn! Air accu-nya ga terlihat sedikit pun. Sial, jadi nyesel ga pernah ngecek nih. Aah, sudah lah, terlambat untuk menyesal, lagipula no use juga. Ok, think fast, think fast.. Nge-bus ga mungkin, pasti telat, ngojek, jauh banget. Ternyata ga perlu mikir juga emang jalan satu-satunya harus nge-taksi, hehe..&lt;br /&gt;Aku melepon ojek [keren ya? Di komplekku, pangkalan ojeknya bisa ditelepon], dan hanya dalam 10 menit, aku sudah sampai di pinggir jalan Margonda [Jalan utama depok, depan gerbang komplekku] dan menunggu taksi yang lewat. Aku sedang mengingat-ingat apa yang akan aku sampaikan ke Dewan Direksi di rapat nanti, ketika aku mendengar seseorang memanggil namaku.&lt;br /&gt;“Andi?”&lt;br /&gt;Lamunanku buyar dan aku memfokuskan pandanganku ke depan untuk melihat sumber suara, yang sepertinya familiar, tetapi sudah lama tak terdengar. Aku mendapati seorang wanita cantik di dalam sebuah mobil sedan yang berhenti didepanku.&lt;br /&gt;            “Meita?” kataku terkejut.&lt;br /&gt;            Meita tersenyum dan kemudian mengangguk. “Lo mau kemana, Ndi?”&lt;br /&gt;            “Mau rapat nih.. Lo sendiri mau kemana?”&lt;br /&gt;            “Ke kantor lah,, Eh, kantor lo dimana? Sapa tau searah..” Meita masih tetap tersenyum, yang membuatku merasa seakan disenyumi oleh bidadari khayangan.&lt;br /&gt;            “Kantor gwe di Sudirman.. Tapi rapatnya ga dikantor, di Bukit Golf Pondok Indah..”&lt;br /&gt;            “Wah,, kebetulan.. Kantor gwe juga di Pondok Indah, bareng aja yuk..”&lt;br /&gt;            “Hah? Beneran, ta? Uuw,, Thanx God, you’re my savior..”&lt;br /&gt;            “Gapapa kok, Ndi. Eitzz, ga gratis lho, Ndi! Lo yang nyetir, dan ntar traktir gwe, hehe..”&lt;br /&gt;            “Sip deh, ta! Gampang..” Aku dengan semangat masuk ke mobil Meita, Meita sendiri sudah pindah ke kursi sebelah.&lt;br /&gt;            “Wah, ndi, lo beruntung banget ketemu gwe.. Gwe kan biasanya lewat jalan raya bogor.. Hari ini aja tadi tumben, gwe harus nganter sodara ke terminal, dia mau ke Bandung!” kata Meita saat aku baru menjalankan mobil.&lt;br /&gt;            “Hehe.. Bagus lah kalo gitu. Emang nasib. Btw, lo kerja dimana emang, ta?”&lt;br /&gt;            “Di Sony Ericsson situ looh. Lo dimana?”&lt;br /&gt;            “Gwe kerja di TorQue inc, perusahaan konstruksi. Tau ga?”&lt;br /&gt;            “Tau lah, itu yang bangun PIM 2 kan? Gwe sering ngeliat plangnya, hehe.. Btw, kok rapat jauh banget sih di Pondok Indah? Rapat sama client ya?”&lt;br /&gt;            “Bukan sama client, sama dewan komisaris.. Tau tuh mereka, emang suka buat rapat di hotel atau di tempat golf.. Buang-buang uang aja, hehe..”&lt;br /&gt;            “Elo rapat sama dewan komisaris? Hebat banget.. Gwe aja baru sekali ketemu Pak Preskom gwe, waktu kunjungan ke kantor, itu juga cuma ngeliat doang. Btw, emang jabatan lo apaan sih?”&lt;br /&gt;            “Ha? Eng,, gwe Presdir..” kataku pelan.&lt;br /&gt;            “Becanda lo, Ndi! Serius doong..” kata Meita sambil tertawa.&lt;br /&gt;            “Serius, ta.. Agak-agak coincidence siy, dan dengan banyak keberuntungan..”&lt;br /&gt;            “Serius lho, Ndi? Kok bisa? Gileee, hebat banget lo..” Meita berhenti tertawa dan membelalakkan matanya. Ya ampun, mukanya lucu banget sih! *Sory, ga nyambung!Hehe..*&lt;br /&gt;            “Hehe.. Panjang ta ceritanya.. Ntar deh kapan-kapan gwe ceritain.. Btw, lo sendiri jadi apa di sana?”&lt;br /&gt;            “Ya udah, ntar aja deh ceritanya, kalo lo lagi nraktir gwe, hehe.. Gwe jadi sekertaris BoD..”&lt;br /&gt;            “Ooh.. Wah, sayang ya.. Coba lo kerja dikantor gwe, jadi sekertaris gwe deh, hehe..”&lt;br /&gt;            Meita ikut tertawa. “Btw, Ndi, lo apa kabar? Giila, kita udah lama banget ya ga ketemu?”&lt;br /&gt;            “Iya, ya, udah lama banget kita ga ketemu.. Udaah,, mmph, 5 tahun ya, ta? Lama juga ya? Well, just like you see now, I do fine.. Lo sendiri gimana? Ada kabar apa nih yang ga gwe tau?”&lt;br /&gt;            “Kabar apaan? Yaa, gwe masih tinggal dirumah bude gwe, seneng sama kerjaan gwe yang sekarang, daripada di bank kaya dulu, terus apalagi ya? Ga ada sih kayanya.. Lo sendiri ngilang kemana aja? Sombong banget sih, ga pernah ngasih kabar..”&lt;br /&gt;            Ooh, masih di rumah bude, bagus deh, belom kawin berarti, hehe.&lt;br /&gt;“Hehe, sory deh ta.. Abis waktu dulu gwe sempet ngesms lo, tapi ga nyampe.. Lo sih, ganti nomor ga bilang-bilang.. Oya, lo ga ikutan FS ya? Gwe sempet nyari-nyariin lo gitu, tapi ga pernah nemu.. Btw, gwe kemaren abis lulus emang langsung cabut S2, nih baru pulang 2 bulan lalu..”&lt;br /&gt;            “Oowh, lo baru pulang? S2 dimana? Btw, hebat banget, baru 2 bulan pulang, langsung dapet kerja, Presdir pula, ckck.. Beruntung banget lo, ndi..”&lt;br /&gt;            “Hehe.. Emang! Gwe S2 di Jerman, abis lumayan paling murah untuk ukuran luar negeri.. Eh, lo ikutan FS ga?”&lt;br /&gt;            “Waduh, ngga tuh say.. Males ngeceknya, hehe..”&lt;br /&gt;            “Ya elah, dasar.. Di kantor kan bisa, kaya ada kerjaan aja dikantor, hehe..”&lt;br /&gt;            “Enak aaja, banyak kerjaan tau dikantor. Ngobrol, nelpon2in temen, atau online, hehe.. Iya deh pak, ntar gwe join deh demi lo, hehe..” &lt;br /&gt;            “Gitu doong.. Kan ntar gampang kalo loose contact..”&lt;br /&gt;Meita hanya tersenyum tak menjawab. Lalu sunyi, hanya terdengar ocehan penyiar di radio. Hmph, nanya apalagi ya kira-kira? Apaa.. nanya tentang ..&lt;br /&gt;            “Eh, ta, btw, si Wisnu apa kabar?” kata-kata itu melontar dengan sendirinya tanpa sempat kucegah.&lt;br /&gt;            “Hah? Gwe ga tau, baik-baik aja sih kayanya.. Kenapa emang nanya-nanya dia?” jawab Meita, yang sepertinya agak terkejut dengan pertanyaanku.&lt;br /&gt;            “Hehe, ya gapapa.. Cuma iseng aja, abis ga tau mau ngomong apaan lagi..”&lt;br /&gt;            “Oowh.. Gwe udah putus sama dia..” kata Meita pelan.&lt;br /&gt;            Aduh, jadi ga enak nih menyinggung topik sensitif gini.&lt;br /&gt;            “Maaf ya, ta. Gwe ga tau. Yaa, its ok kok klo lo ga mau bahas dia, kita ganti topik aja..”&lt;br /&gt;            “Gapapa kok, ndi. Yaah, namanya kenyataan emang harus dihadapi, hehe.. Iya nih, jadi adaptasi ke jomblo lagi deh, hehe..”&lt;br /&gt;            “Beneran gapapa? Yakiin? Btw, emang kapan ta putusnya?”&lt;br /&gt;            “Mmph, 3 bulan lalu..”&lt;br /&gt;            Aku hanya bisa ber-ooh, dan tidak tahu harus berkata apa. Kembali suasana hening, hanya ditemani oleh penyiar yang masih setia cuap-cuap di radio.&lt;br /&gt;            “Lo sama sapa sekarang, ndi? Apa udah kawin ga bilang-bilang lagi? Hehe..” tanya Meita tiba-tiba.&lt;br /&gt;            “Hah? Gwe? Iya nih, udah kawin.. Istri gwe baru hamil lagi anak kedua..”&lt;br /&gt;            “Hah? Serius? Iih, Andi,, jahat banget siih, kawin ga ngundang-ngundang.. Eh,btw, jadinya sama sapa, ndi?”&lt;br /&gt;            “Sama Dian Sastro.”&lt;br /&gt;            “Hah?” jeda sebentar. “Aah, Andi..” lanjut Meita yang nampaknya baru sadar dirinya tertipu dan meninju lenganku. “Lo nepu gwe yaa? Gwe baru sadar sekarang lagi, payah! Huu, ni anak, masih aja suka iseng.. Ndi, wooii, grow up dong, udah jadi Presdir juga, kelakuan masih aja..”&lt;br /&gt;            Aku tak kuasa menahan tawaku. Senang melihat orang tertipu olehku, hihi.. Jahat banget ya? Yaa, kan nipu boongan, bukan beneran. Enak lho ngisengin orang..&lt;br /&gt;            “Haha.. Sory deh ta, sengaja.. Harusnya lo liat ekspresi lo tadi, lucu banget, hehe.. Btw, gwe masih jomblo kok, tenang aja.. Kenapa emang, minat?”&lt;br /&gt;            “Iih, Ge-eR.. Sorry ya, gwe ga mau ah sama lo.. Eh, tapi karena sekarang lo Presdir, gwe mau deh, hehe..”&lt;br /&gt;            “Yee, matre! Cewe matre, Meita matre,, ke laut aja..” jawabku sambil bernyanyi.&lt;br /&gt;            Gantian Meita yang tertawa. Aku pun ikut tertawa. Ha, what a great morning?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makasiy ya ta.. thanx banget nih..” aku turun di depan driving range Bukit Golf Pondok Indah. &lt;br /&gt;            “Ya ampun, ndi, lo tuh udah berapa kali bilang makasih dari tadi. Iiyaaa.. Lagian juga lo kan utang traktir, jadi impas lah, hehe.. Udah, sana, sana, gwe udah hampir terlambat nih..”&lt;br /&gt;            “Hehe.. Iya deh ta.. Hati-hati ya nyetirnya, met kerja,, and wish you have a great day.. Ntar contact-contact ya kalo mau ditraktir..”&lt;br /&gt;            “Sip, sip. Daaghh Andii..”&lt;br /&gt;            “Daagghh..”&lt;br /&gt;Mobil Meita pun melaju dari hadapanku. Aku pun melangkahkan kakiku masuk ke dalam driving range tersebut. Hwuuah, wish me luck ya untuk rapatnya.&lt;br /&gt;-xoxoxox-&lt;br /&gt;Huhuw, seems like this is my lucky day. ThanQue Pa-Per.. *Dasar ga konsisten! Tadi pagi siapa ya yang mengutuk-ngutuk Pa-Per?* Waah, ternyata emang semua kejadian ada hikmahnya ya? Saat Pa-Per ngambek, ternyata malah membawaku bertemu dengan Meita.. Ohya, aku belum cerita. Meita itu adalah teman SMA-ku dulu, dan aku sudah tidak bertemu dengannya sejak semester 5 waktu S1 dulu, kira-kira sudah 5 tahun. Daan, Meita merupakan salah satu wanita istimewa dalam hidupku, karena telah membuatku jatuh cinta. Well, aku bukan type orang yang mudah jatuh cinta, lho. Walau sebenarnya aku tidak yakin, apakah jatuh cinta merupakan kata yang tepat untuk mewakili perasaan yang aku maksud itu. Sepanjang hidupku yang sudah hampir 27 tahun ini, aku pernah mempunyai ‘perasaan yang lebih’ –yang tadi ku sebut jatuh cinta- kepada 3 orang wanita. Yang pertama adalah Meita, kemudian yang kedua adalah teman jurusan S1ku, Bunga, dan yang terakhir adalah juniorku ketika S1 juga, Erlyn. Mereka bertiga mempunyai tempat khusus di hatiku, sejak hari pertama aku melihat mereka, dan sampai waktu yang aku tidak tahu kapan, mungkin sampai hari pernikahanku atau pernikahan mereka, hehe.. Bisa dibilang I’m fall into them at the first sight, hanya dengan sekali lihat, hati dan intuisiku kompak mempunyai perasaan yang sama, yang tidak aku punya ketika melihat wanita-wanita lain. Well, sekali lagi aku bilang, sebenernya aku tidak tahu itu cinta apa bukan, tapi setidaknya aku tahu rasa yang aku punya ke 3 orang itu beda dengan ke wanita2 lain.. Mungkin awalnya hanya ketertarikan fisik, tapii kayanya aku sering banget deh ngeliat cewe cakep, dan ya udah, biasa aja! Mereka cukup untuk diliatin aja.. Tapi kalo ketiga wanita ini, aku pengen banget bisa lebih mengenal mereka, dan kalo bisa, jadi pasangan salah satu dari mereka.. Deep down inside I know, klo aku jadian sama salah satu dari mereka, well, stop! Enough, I could not ask for more.. Dengan catatan, dia itu juga sayang sama aku yaa..&lt;br /&gt;Masalahnya, aku belum pernah sekali pun jadian ma orang-orang yang aku sayang duluan itu.. Aku sudah pacaran 5 kali [not to mention two more, coz aku jadian sama mereka cuma iseng, sekedar karena aku lagi pengen punya pacar aja!] Btw, bukan berarti aku mempemainkan perasaan cewe lho, mereka sebelumnya sudah tau tentang hal itu.. Dari 5 kali pacaranku itu, biasanya aku jadian karena aku tau cewe itu punya perasaan ke aku, jadi aku pdkt, atau kalo ngga, dijodohin orang, hehe.. Khusus untuk pacar terakhirku, Reina, aku yang tertarik lebih dulu ke dia. Namun, bukan perasaan seperti ke ketiga orang yang tadi aku sebut diatas, tapi aku menyukainya terlebih dulu, sebelum dia. Aku sudah mencoba mencoba memunculkan perasaan seperti yang ku punya untuk ketiga wanita istimewaku tadi, namun sepertinya aku tidak berhasil. Sama seperti sebelumnya, ketika PDKT dan masa awal-awal jadian, rasa sayangku jauh lebih besar dari wanita-wanita itu, tapi seiring sejalannya waktu, rasa sayangku kok semakin berkurang ya? Sementara sepertinya rasa sayang cewe-cewe itu ke aku malah bertambah.. [Eh, ini bukannya aku GR atau pamer lho, terserah deh mau percaya pa ngga, hehe..] Iya, jadi sampai pada akhirnya aku menyadari klo dia bukan orang yang aku cari, jadi akhirnya kita putus.. Alasan putusku selalu saja itu. Jadi,  sekarang, aku tidak mau lagi asal jadian, its enough for me buat main-main. Aku ingin mempunyai pacar untuk pacar terakhirku, yang nantinya jadi istriku. Jadi, I’m searching for that equal love.. Oh ya, teori itu aku namai equal love.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17571028-112867386423332022?l=pak-presdir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pak-presdir.blogspot.com/feeds/112867386423332022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17571028&amp;postID=112867386423332022' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112867386423332022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112867386423332022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pak-presdir.blogspot.com/2005/10/bab-iii.html' title='Bab III'/><author><name>HaMDiY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06463712906356541099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/144/6092/640/Resize%20of%20Gwe2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17571028.post-112960939297071487</id><published>2005-10-07T01:13:00.000-07:00</published><updated>2005-10-17T21:27:12.066-07:00</updated><title type='text'>Bab IV</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;Bab IV&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku membaca laporan yang baru saja diberikan oleh Pak Imam, Operation Director. Hump,, proyek gedung kantor yang di Gatot Subroto sudah selesai, wah, aku harus membuat pesta syukuran nih. Queen Cross Ok, Menara Gading Ok, Serpong Grand Mall, progress behind schedule 25%?&lt;br /&gt;“Lho, Pak, ini yang Serpong Grand Mall kenapa bisa sampai 25% progress behind schedule-nya?” tanyaku pada Pak Imam.&lt;br /&gt;“Ooh, itu. Kata Pak Dani, Project Manager itu, memang terjadi pekerjaan tambahan, pak. Parkir ditambah satu lantai, dan perlu perkuatan untuk travelator dan eskalatornya. Memang bulan depan sudah ada rencana untuk dibuat revisi schedule-nya, agar progress tidak terlihat minus.”&lt;br /&gt;“Ooh, begitu. Kok disini ga ditulis?”&lt;br /&gt;“Maaf, Pak. Nanti saya perbaiki.”&lt;br /&gt;Aku kembali meneliti laporan lagi. Lumayan masih on schedule semua, kecuali Serpong Grand Mall dan juga Bogor Town Square. Bahkan beberapa juga ada yang progress ahead schedule, walau hanya 3-5%.&lt;br /&gt;“Ga usah, gapapa kok. Yaa, selebihnya bagus, good! Terima kasih, Pak Imam.”&lt;br /&gt;“Sama-sama, pak. Kalau begitu, saya permisi dulu.”&lt;br /&gt;“Eh, tunggu dulu, pak. Happy silver anniversary ya pak..” Aku tersenyum, kemudian menekan interkom, isyarat untuk Riri.&lt;br /&gt;Pak Imam tertegun, ditambah lagi ketika pintu kantorku terbuka dan terlihat istrinya, Bu Anita, Riri dan anggota dewan direksi.&lt;br /&gt;“SURPRISEE!!!” teriak orang-orang di depan pintu kantorku. Suara Pak Ade, Marketing Directorku, yang bertubuh subur dan bersuara bass terdengar paling kencang. Mereka menghambur masuk, menyalami Pak Imam dan kemudian Bu Anita memeluk suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Pak Imam tampaknya masih mencoba mencerna apa yang terjadi dihadapannya.&lt;br /&gt;“Pak Andi, terima kasih ya untuk ide surprise party-nya ini.. Tampaknya suami saya benar-benar surprised tuh, haha..” kata Bu Anita kepadaku sambil tertawa.&lt;br /&gt;“Sama-sama, bu. Terima kasih juga kerjasamanya, untuk mewujudkan ini. Iya tuh, Pak Imam benar-benar shock tampaknya, haha..”&lt;br /&gt;“Waduuh pak, saya bener-bener ga nyangka, lho! Saya ga habis pikir, kok Bapak bisa tau tanggal perkawinan saya?”&lt;br /&gt;“Haha,, sudah lah pak. Mulai saat ini, saya membuat kebijakan baru di kantor ini, setiap ada karyawan yang ulang tahun atau merayakan hari spesial lainnya, kita rayakan di kantor. Menyenangkan, bukan? Di kantor memang seharusnya tidak perlu terlalu serius, haha..”&lt;br /&gt;Pak Imam tersenyum dan menghela nafas. “Saya sampai speechless nih pak. Terima kasih banyak untuk perhatiannya.”&lt;br /&gt;“Ooh, tenang Pak. Ini baru awal kok, sekarang mari kita ke aula untuk merayakannya. Ri, dibawah sudah siap semua?” tanyaku pada Riri.&lt;br /&gt;“Sudah pak, Pak Yohan tadi sudah confirm, all set.”&lt;br /&gt;“Baik lah kalau begitu, tolong informasikan ke semua manager untuk menyuruh semua staffnya ke aula ya, Ri. Terima kasih.”&lt;br /&gt;“Memang ada apa pak di aula?” tanya Pak Imam penasaran.&lt;br /&gt;“Ada pesta kecil-kecilan, sebenarnya saya yang mau mengadakan, tapi kata Bu Anita, biar dia saja, sebagai kado untuk suami tercintanya..” jawabku tersenyum.&lt;br /&gt;Aku berjalan duluan, bersama para dewan direksi, meninggalkan Pak Imam yang masih berterimakasih dan bertanya-tanya ke istrinya.&lt;br /&gt;“Wah, pak. Seru juga ya kalau dikantor sering kaya gini..” celetuk Pak Ade.&lt;br /&gt;“Hahah, iya, benar. Saya kebetulan memang sedang merencanakan dengan Pak Darmawan untuk mengadakan piknik dan jalan-jalan bersama para karyawan dan keluarga.”&lt;br /&gt;“Iya, benar. Acara-acara seperti itu dapat menghilangkan demotivasi, bahkan dapat meningkatkan kinerja,” timpal Pak Mulya, Regional Director.&lt;br /&gt;“Betul, pak. Saya sedang mengusahakannya. Tampaknya harusbuat rapat kecil nih dengan divisi Estimate dan Cost Control.” Pak Darmawan menambahkan.&lt;br /&gt;Kami pun tiba di aula bawah. Hmph, sepertinya Bu Anita bukan mengadakan pesta kecil nih, atauu, memang seperti ini yang dianggapnya pesta kecil? Dekorasi ruangan yang cukup mahal dengan banyak bunga, lalu set makanan yang sepertinya mewah menghiasi meja tengah. Lagu Here, there, everywhere The Beatles menggema diseluruh ruangan. Romantis banget ya? Duh, jadi pengen punya istri nih, hehe.. Tak lama kemudian, aula mulai penuh dengan seluruh karyawan TorQue Inc. Sebagian tampak terkejut oleh perubahan bentuk aula, sebagian lain tidak peduli malah langsung menyomot kue-kue di meja.&lt;br /&gt;“Ok, ok..” kataku sambil memukul-mukulkan sendok ke gelas minuman yang baru kuambil. “Kita disini untuk merayakan ulang tahun perak perkawinan Pak Imam dan Bu Anita. Semoga mereka terus dapat menjalani rumah tangga mereka dengan kebahagian, sampai maut memisahkan. Silahkan ambil minuman, dan angkat gelas kalian untuk bersulang.” Seluruh isi aula mengambil minuman yang tersedia di banyak meja-meja kecil. “Untuk kebahagian Pak Imam dan Bu Anita,, cheers..” kataku sambil mengangkat gelasku, yang diikuti oleh semua orang, termasuk Pak Imam dan istrinya. “Cheers..” aula seakan bergema dengan banyaknya suara. Setelah itu, aku berjalan-jalan mengelilingi ruangan, menikmati pesta kecil ini.&lt;br /&gt;“Pak, Pak Andi,” panggil seseorang yang berada disampingku. Aku menoleh, dan mendapati seorang wanita manis yang sedang tersenyum kepadaku.&lt;br /&gt;“Ya?” tanyaku ragu-ragu, sambil mengangkat satu alis.&lt;br /&gt;“Apa tidak apa-apa mengorbankan jam kerja untuk hal seperti ini?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Well, it’s okay I think.. Cuma sejam-dua jam ga berpengaruh kan? Biasanya juga orang-orang menghabiskan beberapa jam di kantor bukan untuk keperluan pekerjaannya, ya kan?”&lt;br /&gt;“Hahah.. Bapak bisa aja. Ohya, saya Nadine, Pak, Estimator,” ia memperkenalkan diri namun tidak menjulurkan tangannya.&lt;br /&gt;“Ooh.. Saya baru mau menanyakan namamu. Btw, kita ngomong lo-gwe aja ya, dine, ga asyik nih ngomong resmi.”&lt;br /&gt;“Hahah, boleh aja, Pak. Tapi saya tetep manggil Bapak yaa, ga enak soalnya.”&lt;br /&gt;“Yee, gimana caranya.. Udah kerja berapa tahun disini, dine?”&lt;br /&gt;“Udah hampir 2 tahun, pak. Tapi, ini baru pertama kalinya saya melihat dikantor ini diadakan pesta.”&lt;br /&gt;“Hahah, mending biasain diri deh, mulai sekarang bakal sering tuh kayanya..”&lt;br /&gt;“Oya, Pak? Untuk acara apa?”&lt;br /&gt;“Yaa, ga selalu kaya gini sih. Tapi gwe rencananya mau buat pesta kecil-kecilan tiap ada yang ulang tahun atau hari spesial lain buat semua karyawan.”&lt;br /&gt;“Semua, pak?”&lt;br /&gt;“Iya, semua.. Ga adil dong kalo cuma sebagian, misalnya cuma boss-boss aja.. Jadi yaa, semua lah, sampe office boy dan cleaning service.. Eh, bukan pesta kaya gini lho, bisa bangkrut ntar, hehe.. Yaa, sekedar rame-ramean aja, biar ga bosen kerja terus, lagian kan biar gwe bisa akrab sama karyawan gwe..”&lt;br /&gt;“Wow, saya baru menemukan orang, maksud saya seorang pimpinan, seperti bapak..”&lt;br /&gt;“Well, dalam arti bagus or jelek nih?” godaku.&lt;br /&gt;“Ya bagus lah, pak. Senang punya boss kaya bapak,” katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Hahah.. Makasih. Gwe juga seneng punya karyawan manis kaya lo gini, hehe.. Eh, ga boleh gombal ya ke karyawan sendiri?”&lt;br /&gt;Nadine tertawa. Astaga, dia manis banget sih, terlihat dua buah lesung pipi yang membuatnya tambah manis ketika tertawa. Ooups..&lt;br /&gt;Tiba-tiba ponselku dikantung celana bergetar-getar, aku pun permisi ke Nadine. Nomor tak dikenal muncul dilayar ponselku, aku pun mengangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***Belum selese niyy*** =D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17571028-112960939297071487?l=pak-presdir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pak-presdir.blogspot.com/feeds/112960939297071487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17571028&amp;postID=112960939297071487' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112960939297071487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17571028/posts/default/112960939297071487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pak-presdir.blogspot.com/2005/10/bab-iv.html' title='Bab IV'/><author><name>HaMDiY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06463712906356541099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/144/6092/640/Resize%20of%20Gwe2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
