Friday, October 07, 2005

Bab IV

Bab IV

Aku membaca laporan yang baru saja diberikan oleh Pak Imam, Operation Director. Hump,, proyek gedung kantor yang di Gatot Subroto sudah selesai, wah, aku harus membuat pesta syukuran nih. Queen Cross Ok, Menara Gading Ok, Serpong Grand Mall, progress behind schedule 25%?
“Lho, Pak, ini yang Serpong Grand Mall kenapa bisa sampai 25% progress behind schedule-nya?” tanyaku pada Pak Imam.
“Ooh, itu. Kata Pak Dani, Project Manager itu, memang terjadi pekerjaan tambahan, pak. Parkir ditambah satu lantai, dan perlu perkuatan untuk travelator dan eskalatornya. Memang bulan depan sudah ada rencana untuk dibuat revisi schedule-nya, agar progress tidak terlihat minus.”
“Ooh, begitu. Kok disini ga ditulis?”
“Maaf, Pak. Nanti saya perbaiki.”
Aku kembali meneliti laporan lagi. Lumayan masih on schedule semua, kecuali Serpong Grand Mall dan juga Bogor Town Square. Bahkan beberapa juga ada yang progress ahead schedule, walau hanya 3-5%.
“Ga usah, gapapa kok. Yaa, selebihnya bagus, good! Terima kasih, Pak Imam.”
“Sama-sama, pak. Kalau begitu, saya permisi dulu.”
“Eh, tunggu dulu, pak. Happy silver anniversary ya pak..” Aku tersenyum, kemudian menekan interkom, isyarat untuk Riri.
Pak Imam tertegun, ditambah lagi ketika pintu kantorku terbuka dan terlihat istrinya, Bu Anita, Riri dan anggota dewan direksi.
“SURPRISEE!!!” teriak orang-orang di depan pintu kantorku. Suara Pak Ade, Marketing Directorku, yang bertubuh subur dan bersuara bass terdengar paling kencang. Mereka menghambur masuk, menyalami Pak Imam dan kemudian Bu Anita memeluk suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Pak Imam tampaknya masih mencoba mencerna apa yang terjadi dihadapannya.
“Pak Andi, terima kasih ya untuk ide surprise party-nya ini.. Tampaknya suami saya benar-benar surprised tuh, haha..” kata Bu Anita kepadaku sambil tertawa.
“Sama-sama, bu. Terima kasih juga kerjasamanya, untuk mewujudkan ini. Iya tuh, Pak Imam benar-benar shock tampaknya, haha..”
“Waduuh pak, saya bener-bener ga nyangka, lho! Saya ga habis pikir, kok Bapak bisa tau tanggal perkawinan saya?”
“Haha,, sudah lah pak. Mulai saat ini, saya membuat kebijakan baru di kantor ini, setiap ada karyawan yang ulang tahun atau merayakan hari spesial lainnya, kita rayakan di kantor. Menyenangkan, bukan? Di kantor memang seharusnya tidak perlu terlalu serius, haha..”
Pak Imam tersenyum dan menghela nafas. “Saya sampai speechless nih pak. Terima kasih banyak untuk perhatiannya.”
“Ooh, tenang Pak. Ini baru awal kok, sekarang mari kita ke aula untuk merayakannya. Ri, dibawah sudah siap semua?” tanyaku pada Riri.
“Sudah pak, Pak Yohan tadi sudah confirm, all set.”
“Baik lah kalau begitu, tolong informasikan ke semua manager untuk menyuruh semua staffnya ke aula ya, Ri. Terima kasih.”
“Memang ada apa pak di aula?” tanya Pak Imam penasaran.
“Ada pesta kecil-kecilan, sebenarnya saya yang mau mengadakan, tapi kata Bu Anita, biar dia saja, sebagai kado untuk suami tercintanya..” jawabku tersenyum.
Aku berjalan duluan, bersama para dewan direksi, meninggalkan Pak Imam yang masih berterimakasih dan bertanya-tanya ke istrinya.
“Wah, pak. Seru juga ya kalau dikantor sering kaya gini..” celetuk Pak Ade.
“Hahah, iya, benar. Saya kebetulan memang sedang merencanakan dengan Pak Darmawan untuk mengadakan piknik dan jalan-jalan bersama para karyawan dan keluarga.”
“Iya, benar. Acara-acara seperti itu dapat menghilangkan demotivasi, bahkan dapat meningkatkan kinerja,” timpal Pak Mulya, Regional Director.
“Betul, pak. Saya sedang mengusahakannya. Tampaknya harusbuat rapat kecil nih dengan divisi Estimate dan Cost Control.” Pak Darmawan menambahkan.
Kami pun tiba di aula bawah. Hmph, sepertinya Bu Anita bukan mengadakan pesta kecil nih, atauu, memang seperti ini yang dianggapnya pesta kecil? Dekorasi ruangan yang cukup mahal dengan banyak bunga, lalu set makanan yang sepertinya mewah menghiasi meja tengah. Lagu Here, there, everywhere The Beatles menggema diseluruh ruangan. Romantis banget ya? Duh, jadi pengen punya istri nih, hehe.. Tak lama kemudian, aula mulai penuh dengan seluruh karyawan TorQue Inc. Sebagian tampak terkejut oleh perubahan bentuk aula, sebagian lain tidak peduli malah langsung menyomot kue-kue di meja.
“Ok, ok..” kataku sambil memukul-mukulkan sendok ke gelas minuman yang baru kuambil. “Kita disini untuk merayakan ulang tahun perak perkawinan Pak Imam dan Bu Anita. Semoga mereka terus dapat menjalani rumah tangga mereka dengan kebahagian, sampai maut memisahkan. Silahkan ambil minuman, dan angkat gelas kalian untuk bersulang.” Seluruh isi aula mengambil minuman yang tersedia di banyak meja-meja kecil. “Untuk kebahagian Pak Imam dan Bu Anita,, cheers..” kataku sambil mengangkat gelasku, yang diikuti oleh semua orang, termasuk Pak Imam dan istrinya. “Cheers..” aula seakan bergema dengan banyaknya suara. Setelah itu, aku berjalan-jalan mengelilingi ruangan, menikmati pesta kecil ini.
“Pak, Pak Andi,” panggil seseorang yang berada disampingku. Aku menoleh, dan mendapati seorang wanita manis yang sedang tersenyum kepadaku.
“Ya?” tanyaku ragu-ragu, sambil mengangkat satu alis.
“Apa tidak apa-apa mengorbankan jam kerja untuk hal seperti ini?” tanyanya.
“Well, it’s okay I think.. Cuma sejam-dua jam ga berpengaruh kan? Biasanya juga orang-orang menghabiskan beberapa jam di kantor bukan untuk keperluan pekerjaannya, ya kan?”
“Hahah.. Bapak bisa aja. Ohya, saya Nadine, Pak, Estimator,” ia memperkenalkan diri namun tidak menjulurkan tangannya.
“Ooh.. Saya baru mau menanyakan namamu. Btw, kita ngomong lo-gwe aja ya, dine, ga asyik nih ngomong resmi.”
“Hahah, boleh aja, Pak. Tapi saya tetep manggil Bapak yaa, ga enak soalnya.”
“Yee, gimana caranya.. Udah kerja berapa tahun disini, dine?”
“Udah hampir 2 tahun, pak. Tapi, ini baru pertama kalinya saya melihat dikantor ini diadakan pesta.”
“Hahah, mending biasain diri deh, mulai sekarang bakal sering tuh kayanya..”
“Oya, Pak? Untuk acara apa?”
“Yaa, ga selalu kaya gini sih. Tapi gwe rencananya mau buat pesta kecil-kecilan tiap ada yang ulang tahun atau hari spesial lain buat semua karyawan.”
“Semua, pak?”
“Iya, semua.. Ga adil dong kalo cuma sebagian, misalnya cuma boss-boss aja.. Jadi yaa, semua lah, sampe office boy dan cleaning service.. Eh, bukan pesta kaya gini lho, bisa bangkrut ntar, hehe.. Yaa, sekedar rame-ramean aja, biar ga bosen kerja terus, lagian kan biar gwe bisa akrab sama karyawan gwe..”
“Wow, saya baru menemukan orang, maksud saya seorang pimpinan, seperti bapak..”
“Well, dalam arti bagus or jelek nih?” godaku.
“Ya bagus lah, pak. Senang punya boss kaya bapak,” katanya sambil tersenyum.
“Hahah.. Makasih. Gwe juga seneng punya karyawan manis kaya lo gini, hehe.. Eh, ga boleh gombal ya ke karyawan sendiri?”
Nadine tertawa. Astaga, dia manis banget sih, terlihat dua buah lesung pipi yang membuatnya tambah manis ketika tertawa. Ooups..
Tiba-tiba ponselku dikantung celana bergetar-getar, aku pun permisi ke Nadine. Nomor tak dikenal muncul dilayar ponselku, aku pun mengangkatnya.

***Belum selese niyy*** =D

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home