Bab II
Bab II
Aku dan Rama baru saja sampai di pelataran parkir Bogor Raya Golf Club, Novotel Bogor. Tadinya aku mengira ayah Rama, berada di Bogor untuk keperluan bisnis, ternyata sedang bemain golf. Aku mengikuti Rama yang berjalan masuk ke dalam ruangan, dan berhenti di meja resepsionis. Rama menanyakan rombongan ayahnya ada di hole berapa, dan kemudian gadis resepsionis itu dengan cepat melihat daftar didepannya, menelepon seseorang, dan kemudian memberi tahu Rama bahwa sekarang rombongan ayahnya sedang menuju hole 17, dan menawarkan apakah kami ingin diantar menuju kesana atau mau menunggu di ruang ganti/kafe. Baru saja Rama hendak mengatakan bahwa kami akan menunggu saja, tetapi aku menyela bahwa kami minta diantar menuju kesana. Dewi, nama yang tertera di name tag resepsionis itu, mengantar kami ke tempat caddy yang sedang tidak bekerja, dan mempersilahkan kami naik ke mobil golf untuk diantar ke hole 17. Setelah mengucapkan terima kasih, aku dan Rama pun naik ke mobil.
“Lo ngapain sih, Ndi? Orang bentar lagi juga selese, tinggal 2 hole lagi. Iseng amat seh..” gerutu Rama, walau pun dia tetap mengikutiku naik ke mobil.
“Ya emang iseng, daripada nunggu bengong? Mendingan ngeliatin pemandangan.. Lagian gwe juga pengen nyoba naik mobil golf ini, hehe..”
“Ya ampuun, norak banget sih anak ini. Tapi gapapa lah, caddy-nya cewe-cewe semua ooi, sadis! Pantesan aja tuh bapak-bapak pada betah.”
Iya, ya, sedari tadi aku tidak menyadari bahwa hampir semua caddy dan pegawai di sini berjenis kelamin wanita. Apakah ini hanya terjadi disini saja, atau memang merupakan terobosan di dunia per-golf-an yang memang sudah booming? Hump,, sebelum sempat memikirkannya, mobil golf yang kami tumpangi sudah berhenti, tepat dibelakang rombongan yang sedang memperhatikan seseorang yang melakukan backswing. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ayu, caddy yang mengantarkan kami, aku dan Rama turun menghampiri rombongan tersebut. Aku mendapati beberapa wajah yang cukup familiar dalam rombongan tersebut, antara lain ayah Rama, dan ada beberapa mantan pejabat orde baru yang sekarang sudah tidak terdengar lagi kabarnya di dunia politik, sedangkan orang yang sedang mengayunkan stick golfnya itu aku kenali sebagai salah satu menteri di kabinet saat ini. Ayah Rama tampaknya baru menyadari kehadiran kami, kemudian menghentikan percakapannya dengan seseorang disebelahnya, dan menyapa Rama dengan ramah, “Aah, Rama. What brings you down here, son?”
“Hi dad.. Ini nih, mau ngenalin Andi.. Itu lho, yang kemaren Rama bilang temen yang menurut Rama bisa jadi salah satu calon pengganti Pak Firman..” Rama mendorongku agar berdiri tepat disebelahnya.
“Ooh ya, I see..” Ayah Rama menimpali, kemudian melihat kearahku. Aku mengulurkan tanganku kepada ayah Rama, Adityawan Chandradinata, dan tiba-tiba saja perasaan cemas menghampiriku, aku merasa jantungku berdebar lebih kencang daripada biasanya. “Andi, oom..” Aku mendengar getaran disuaraku sendiri. Ayah Rama menjabat tanganku, dan aku merasa tekanan yang luar biasa, seakan aku sangat kecil dihadapan ayah Rama akibat karisma yang terpancar dari seorang Adityawan Chandradinata. Padahal dia tidak melakukan apa-apa, selain tersenyum kepadaku dan menjabat tanganku dengan kuat.
“Owhya, nice to meet you, Andi. Rama sudah menceritakan sedikit tentangmu kemarin malam.” Pak Adit kembali tersenyum. “Well, untuk menguji apakah kau pantas untuk menggantikan Pak Firman, Oom akan bertanya-tanya sedikit kepadamu, is that okay?”
“Oh ya, silahkan saja oom..” Masih saja terdengar getaran disuaraku.
“Kamu seumuran dengan Rama ya? Ngambil S1 dimana?” suara Pak Adit terdengar begitu ramah, sehingga lumayan membantuku menguasai diri kembali, aku bersyukur karena dia tidak bertanya dengan nada mengintimidasi. “Saya setahun lebih muda dari Rama oom, dulu mengambil S1 di Teknik Sipil UI..” Suaraku mulai terdengar mantap.
“Ooh, temannya Raka ya?”
“Iya, benar. Raka teman seangkatan saya, oom, tapi beda jurusan, dia jurusan mesin.” Aku sudah sepenuhnya menguasai diri, namun sekarang aku mulai jengah dengan percakapan resmi ini.
“Sebentar ya, giliran oom tuh yang mukul,” kata Pak Adit yang langsung berjalan meninggalkanku. Puuff,, akhirnya dapat bernafas dulu.
“Kenapa lo, Ndi?” tanya Rama yang sejak tadi diam saja.
“Gapapa, cuma ngambil nafas aja. Tadi gwe agak jiper!” Aku kemudian melihat Pak Adit melakukan ayunan dan melakukan pukulan keras, walau hole ini termasuk short hole, karena par-nya hanya 3.[1]
Setelah melakukan pukulan, dan mendapat applause dari rekan-rekannya, Pak Adit kembali menghampiriku.
“Maaf tadi terputus. Where were we? Ah, kamu temen S1 Raka..” jeda sebentar. “Hmm, kamu punya mimpi, nak?”
Aku agak bingung dengan pertanyaan ini, karena sepertinya ga nyambung berat dengan kerjaanku nanti. Namun, toh, tetap saja harus kujawab.
“Ya, tentu saja. Kebetulan saya memang seorang pemimpi, yang berarti saya mempunyai banyak mimpi,” jawabku lugas. Aku cukup bangga dengan jawabanku yang spontan muncul.
“Ooh, okay.. So, tell me, what is your biggest dream?”
Damn!, rutukku dalam hati. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakannya, karena biasanya orang tidak mempercayai atau menganggap serius mimpi dan cita-citaku. Bukan berarti aku malas mengatakannya karena sering ditertawakan orang, I don’t care about what they said about it, tapi masalahnya, lawan bicaraku saat ini bukanlah orang sembarangan, aku jadi sedikit malu mengatakannya, hehe..
“Hump,,” jeda sebentar, “sebenarnya mimpi saya adalah menjadi seorang manusia yang bisa lebih bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk di dunia ini, terutama bagi kemajuan bangsa ini.”
See? That’s my dream, my really dream! But, sometimes, some people, well, maybe most of people, think thats a bullshit! Mereka tidak percaya, seakan aku baru saja mengucapkan lelucon yang sama sekali tidak lucu. Mungkin saja sekarang Pak Adit menganggapku sinting, mencoba sok suci dan sok baik.
“Woow, thats sure a big dream! So, tell me then, what would you do to realizes it?” Aku tidak tahu whether it is just me, atau memang nada bicara Pak Adit agak excited?
“Wah, kalau langkah kongkretnya saya belum menemukannya, oom. Tapi, sebenernya untuk mewujudkan itu, saya mempunyai cita-cita untuk menjadi pemimpin negeri ini suatu saat nanti.” Aku tidak berani menyebut kata “Presiden RI” seperti yang biasanya aku ucapkan ke teman-temanku. Aku tidak percaya aku berani mengucapkan cita-citaku itu kepada seorang Adityawan Chandradinata. Ha, this is so weird!
“Excellent!! You’re a great guy. Well, nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita, okay?” Pak Adit menepuk pundakku, kebiasaan yang sama seperti Rama, kemudian berjalan mengikuti rombongan yang mulai berjalan. Aku bengong sebengong-bengongnya. Tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi barusan.
“Woow, gilee! You’ve made a very very great impression to Dad, man! Its amazing!” tiba-tiba saja Rama mengatakan itu sambil menepuk-nepuk pundakku, just like his father.
“Hah? Apaan sih, Ram? Kok gwe ga ngerti apa-apa ya? Which part of my words that impressed your dad?” Aku masih tetep bingung, completely stupefied.
“Well, dunno.. Yang jelas dari ekspresi dad yang gwe liat tadi, sama kaya ekspresi dad yang biasa gwe liat kalo dia lagi nemuin calon pemenang tender.”
“Serius lo, Ram? Masa sih? Kok gwe ga percaya ma lo ya? Hehe.. Aah, lo bikin gwe ge-er aja..”
“Idih, males banget! Ya udah lah, liat ntar aja lah klo gitu..”
“Yeah, hope you’re rite..”
“Huu.. Ga konsisten banget sih anak ini! Tadi perasaan ga PD en ga mau nerima kerjaan ini, sekarang kok jadi ngarep ya?”
Aku tertawa.
Kami terus berjalan mengikuti rombongan tersebut, Pak Adit mendapat par di hole 17 dan mendapat birdie[2] di hole 18. Setelah menyelesaikan permainan, seluruh rombongan ke ruang ganti, sementara aku dan Rama menunggu di dekat meja resepsionis. Kemudian, setelah semua selesai, aku masih tetap mengikuti rombongan tersebut untuk makan di Gurih, salah satu rumah makan lesehan di Bogor yang bernuansa sunda. Aku dan Rama, walau pun baru saja makan di food court tadi, tetap saja ikut makan lagi, hehe.. Aku, Rama, dan Pak Adit duduk di saung yang berbeda dengan rombongan pe-golf tersebut.
“Oh iya, Ndi, kata Rama kamu tidak tertarik untuk bekerja di perusahaan, benar begitu?” Pak Adit memulai pembicaraan setelah kami selesai memesan makanan.
“Iya, oom. Sebenernya saya memang dari awalnya berniat jadi entrepreneur. Namun masih belum ada ide usahanya, oom.”
“Oh, begitu. Hump,, entrepreneur ya? Kenapa entrepreneur?”
“Waah, agak sulit nih jawabnya, haha.. Memang jiwanya sudah ada disitu, oom. Lagipula bisa lebih bebas, dan yang pasti, bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang-orang..”
“Aah, I see.. Niat kamu mulia sekali.. Kamu punya entrepreneur idola, sebagai panutan atau acuan kamu sebagai seorang entrepreneur nantinya?”
“Ya, ada dua orang. Herb Kelleher dan Sam Walton.”
“Ooh.. Sam Walton pendiri Wal-Mart ya? Dan, siapa tadi seorang lagi?”
“Iya, betul, oom. Sam Walton pendiri Wal-Mart. Sedangkan Herb Kelleher adalah pendiri Southwest Airlines, salah satu airlines di Amerika.
“Aah, dia pendiri Southwest Airlines? Oom baru tahu tuh, padahal Southwest merupakan airline favorit oom kalau berada di Amerika, karena selain murah, pilot dan pramugarinya pun sering membuat lelucon yang cukup lucu, haha..”
“Hah? Masa sih dad? Gimana caranya pilotnya melucu?” Rama yang sedari tadi diam dan hanya mendengarkan, tiba-tiba ikutan berkomentar.
“Iya, bener lho, Ram! Pilotnya kadang-kadang melontarkan lelucon via interkom, can you imagine? Mana ada penerbangan lain seperti itu? Bener kan, Ndi?”
“Wah, kebetulan saya belum pernah naik pesawat Southwest, oom..”
“Lho, lalu kenapa kamu bisa mengenal dan bahkan menjadikan si Herb itu sebagai panutan kamu?”
“Beberapa tahun lalu, saya membaca buku ‘What the Best CEOs Know’, dan didalamnya termasuk cerita tentang Herb Kelleher ini, bersama Sam Walton, Bill Gates, dan beberapa orang lainnya. Dari situ, saya tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Herb, karena di buku itu dijelaskan sedikit pemikiran dan gaya kepemimpinan Herb Kelleher ini, yang menurut saya sangat hebat dan berbeda dengan yang lain. Maka, saya kemudian mencari artikel tentang dia dan Southwest-nya di internet, dan juga membaca buku Nuts, semacam biografi dirinya.”
“Ooh.. Bisa cerita sedikit atau beri gambaran tentang Herb? Karena saya juga jadi penasaran nih, haha..”
“Iye Ndi, gwe juga jadi pengen tau. Padahal gwe pernah liat buku Nuts lo itu padahal, cuma waktu itu lagi ga mood baca, hehe..”
“Waah, saya tidak tahu harus menceritakan apa tentang dirinya, karena banyak sekali yang unik dari beliau. Hump,, tapi,, dua hal yang paling saya kagumi dari beliau adalah, ia berhasil menciptakan dan memajukan perusahaannya dengan budaya kekeluargaan, seakan perusahaan itu perusahaan kecil. Untuk sistem kompensasi, ia mengatakan : “Bayar eksekutif lebih sedikit dan karyawan lebih banyak.” Sedangkan untuk pelanggan, ia selalu menekankan pada karyawannya untuk jangan memikirkan laba, karena laba hanya merupakan side product dari pelayanan pelanggan, jadi fokuslah pada pelayanan pelanggan. Mungkin konsep itu sudah menggambarkan sedikit tentang beliau. Dan, oh iya, satu lagi, dalam sistem perekrutan, ia memakai tujuh kriteria utama yang sangat berbeda dengan perusahaan lain, yaitu : keceriaan, optimisme, kemampuan membuat keputusan, semangat tim, komunikasi, rasa percaya diri dan keterampilan untuk memacu diri sendiri.”
“Hmph, sepertinya ia merupakan pribadi menarik ya? Well, kamu punya idola yang bagus, son!”
“Terima kasih, oom.”
Rama nyengir dan mengedipkan sebelah mata kearahku.
“Sepertinya kamu bisa diandalkan, nak. Kalau begitu,, selamat bergabung menjadi bagian Savoir-Faire Group, glad to have you in our group, dan mohon bantuannya.” Pak Adit tersenyum dan menjulurkan tangannya kepadaku untuk memberi selamat.
A, aa, aaa, apa? Tadi dia bilang apa? Bukan aku yang salah denger kan? Tadi dia bilang selamat bergabung menjadi BAGIAN Savoir-Faire Group? Is that for real? Just that, and voila, I’m become a President Director? Wow, gampang banget ya jadi Presdir? Tau gitu dari dulu aku bercita-cita jadi Presdir, hehe..
Tersadar dari pikiranku, aku menjabat tangan Pak Adit, dan mengucapkan terima kasih. Pak Adit permisi untuk bergabung ke saung teman-temannya.
“Eh, Ram, bokap lo seriusan tuh? Udah, gitu doang wawancaranya?”
“Iye, kenapa emang?”
“Ta, ta, ta, tapi.. Masa sih cuma gitu doang? Terus, gwe berarti udah resmi keterima jadi Pak Presdir nih? Masa sih??” aku sengaja melatahkan kata-kataku.
“Iyee bawel.. Congrats ya, bro! Glad to have you in our group, gyahaha..” Rama sok-sok mengulang kata-kata ayahnya dengan nada dan gaya yang sama.
Aku pun ikut tertawa. Perasaanku benar-benar tidak menentu, antara senang, bahagia, terkejut, dan juga, yang pasti, shock berat. Kemudian, Pak Adit kembali ke saung kami untuk makan.
“Kamu sudah tahu perusahaan yang akan kamu tangani kan, Ndi?”
“Rama sudah memberi tahu, oom. TorQue inc kan?”
“Iya, benar. Perusahaan itu, seperti yang kamu ketahui, bergerak dibidang konstruksi. Tentunya kamu banyak tahu kan tentang itu? Nanti, untuk bertanya-tanya tentang TorQue, kamu bisa hubungi Pak Imam, Presdir sementara saat ini, atau bisa juga bertemu dengan Pak Firman sebelum ia memulai perjalanannya.”
“Baik, oom. Oh iya, oom, hump,, sebelumnya, boleh saya minta sesuatu?”
“Mention it, son!”
“Begini, oom. Karena saya tidak punya pengalaman, dan juga tidak tahu peta kemampuan saya sendiri, maaf sebelumnya, kalau boleh, saya minta bayaran yang tidak terlalu tinggi, kalau bisa, jangan sampai 50% dari gaji Pak Firman.”
“Lho, kok begitu?” Pak Adit mengernyitkan alisnya.
“Maaf oom, bukan saya tidak menghormati keputusan oom merekrut saya. Tapi saya sendiri butuh pembuktian untuk diri saya, apakah saya benar-benar bisa menjalankan tugas saya dengan baik? Untuk itu, saya tidak ingin menerima bayaran yang melebihi jasa dan partisipasi saya untuk perusahaan, oom.”
“Well, good thought. Oom jadi tambah yakin tidak salah memilih orang,” jawab Pak Adit sambil tersenyum.
Pembicaraan kami pun selesai. Selesai makan, aku dan Rama minta izin untuk pulang lebih dahulu.
[1] Par, jumlah pukulan dalam golf. Jika berhasil memasukkan bola dengan jumlah pukulan sama dengan par hole tersebut, nilainya 0.
[2] Satu angka dibawah par (-1)


0 Comments:
Post a Comment
<< Home