Bab I
Bab I
“Saya kira cukup sekian apa yang perlu saya sampaikan pada kesempatan perdana ini, terima kasih untuk perhatiannya, dan juga mohon kerja samanya. Terima kasih.” Aku berjalan mondar-mandir sambil mengulang kalimat terakhir pidato yang akan kusampaikan dalam kurang dari setengah jam lagi.
Tarik nafas,
hmph,,
buang,
huff,,
ulangi lagi,
hmph,,
huff,,
Ok, don’t panic! Jangan grogi, no time for nervous now,, you know you can do it, man, kataku dalam hati, untuk menenangkan pikiranku dan membangkitkan kepercayaan diriku.
Huff,, aku memandang ke sekeliling, ruangan berukuran 6x8m2, dengan nuansa minimalis dan dominasi warna hitam-putih. Meja kerja berwarna coklat tua berukuran raksasa berada hampir di sudut kanan ruangan, dilengkapi kursi kerja yang terlihat sangat empuk, dan dibelakangnya terlihat dinding kaca yang memperlihatkan view jalan sudirman dari lantai 7. Kamar mandi di sudut kiri ruangan, disebelahnya terdapat meja tamu kecil dikelilingi oleh 2 sofa panjang, dan 2 sofa single.
Aku terkagum-kagum dengan ruangan ini, hampir tak dapat mempercayai aku berada disini. Lebih tidak percaya lagi ketika melihat ukiran kayu yang mewah di atas meja kerja bertulisan “Andiajsyah Avicenna”, dibawahnya bertulisan “President Director”, yang dipisahkan garis lurus ditengahnya. Itu namaku, dan juga jabatan yang akan aku pegang di perusahaan ini, TorQue inc, perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi bangunan. What?? Me? The CEO? How could it be? Pertanyaan2 itu biasanya diajukan kepadaku ketika orang menanyakan pekerjaanku sekarang. Yaah, aku sendiri pun tidak percaya. Well, maybe someone’s wish me a good luck is heared by God, coz He really gave me a very very good luck. Imagine this, menjadi seorang pria yang baru akan berumur 27 tahun beberapa bulan lagi, yang baru saja menyelesaikan study S2nya, dan tidak mempunyai pengalaman kerja sama sekali sebelumnya, tiba-tiba saja menjadi Presiden Direktur? Apalagi namanya kalau bukan a very very good luck, or should I called it miracle?
I don’t know what that really is, but that sure is fate, my fate! This is really a dream comes true, karena sejak dahulu memang aku tidak pernah berencana bekerja kantoran, sebagai bawahan. Sejak menjalankan study S1-ku, aku selalu menginginkan setelah aku lulus nantinya, sebisa mungkin tidak mencari pekerjaan, atau menambah angka pengangguran Indonesia, justru sebaliknya, sebisa mungkin dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Namun, bukan seperti ini yang kukhayalkan dulu, yang kupikirkan dahulu adalah membuka usaha, dengan modal sendiri [yang maksudnya meminjam dari orang tua], usaha yang kira-kira dapat terus berkembang. Namun, sepertinya hal itu tidak sempat terjadi, takdir menghendaki lain. Takdir ternyata mempertemukan aku dengan Rama di men’s dorm kampus University of Hamburg, Jerman, yang kemudian menjadi sahabat terbaikku selama S2. Kamar kami bersebelahan di dorm, sehingga otomatis menyebabkan kami berkenalan. Rama, temanku berbagi cerita, terutama about sharing thoughts, karena kami senang sekali berteori. Kemudian ia kembali ke Indonesia setahun lebih dulu daripada aku, dan kita sempat tidak berhubungan sama sekali dalam setahun itu, karena aku sibuk mengerjakan tesisku, sementara ia sudah lulus dan diminta kembali ke Indonesia oleh ayahnya, untuk melanjutkan bisnis. Pramantya Chandradinata, atau Rama, adalah putra tunggal Adityawan Chandradinata, pemilik jaringan perusahaan Savoir-Faire Group, yang bergerak dibidang obat-obatan dan kesehatan, manufaktur dan juga konstruksi bangunan dan jalan raya. Tiba-tiba saja sekitar sebulan kemarin, aku mendapat email dari Rama, yang menanyakan kabarku, apakah aku sudah menyelesaikan kuliahku dan sudah kembali ke Indonesia. Dan dia memberikan nomornya, dan berpesan padaku untuk segera menguhubunginya secepatnya setelah aku sampai di Indonesia. Aku pun kemudian menghubunginya, dan beberapa hari setelahnya kami bertemu di sebuah foodcourt mall di kawasan selatan Jakarta. Aku masih mengingat jelas percakapan kami waktu itu. Setelah berbasa-basi sebentar, sampailah Rama pada topik utama.
“Lo udah tau mau buat usaha apaan, Ndi?”
“Belom tau nih Ram, pusing juga gwe jadinya.. Any idea?”
“Hump.. Emang lo beneran ga mau kerja dulu, buat nyari pengalaman?”
“Yeaah, gimana ya Ram? Lo kan tau gwe, ga suka kerja dibawah orang! I want to be boss of my own, hehe.. Syukur-syukur punya anak buah.. Hehe..”
“Yeah, rite.. I know you.. Gwe sebenernya mau nawarin kerjaan buat lo, lumayan kan buat ngisi waktu sementara dan buat pengalaman untuk CV lo nanti..” Muka Rama terlihat soo mysterious..
“Emang kerjaan apaan? Di kantor lo? Jadi apaan? Masa iya lo tega banget ngejadiin gwe kacung lo, hehe..” Aku bertanya agak penasaran. Ku pikir, mungkin Rama benar juga, sebelum membuka usaha sendiri, to be a good leader, I’ve to learn first. Well, lagian enak juga kalo kerja sama temen, kalo ga suka kan tinggal bilang, dan cabut deh klo mau, hehe..
“Bukan di kantor gwe. Tapi masih group bokap sih. Dad lagi nyari orang tuh, soalnya minggu lalu si Pak Firman tiba-tiba mengundurkan diri, ga jelas gitu kenapa. Dia bilang mau pensiun lebih dini aja, mau keliling dunia sama istrinya. Itu emang impiannya dari dulu, dia bilang takut ntar ga sempet mewujudkan. So, Dad kelimpungan deh nyari penggantinya, dia sampe nyuruh-nyuruh gwe nyariin. Dikira gampang kali nyari pengganti orang kaya Pak Firman..”
“Ooh, gitu.. Btw, emang si Pak Firman itu apaan jabatannya sih? Kenapa si bokap lo segitu kelimpungan as if he loss all his key worker-nya aja.. Ada-ada aja bokap lo!”
“Presiden Direktur..” kata Rama tanpa ekspresi.
“Ooh..” Aku meng-oo tanda mengerti, sambil mengangguk-ngangguk, dan kemudian, “ WHATT?? You told me to fill the CEO position? Are you crazy or what?”
Okay, kayanya reaksiku berlebihan, coz hampir semua orang di foodcourt ini menoleh ke arahku dan Rama.
“Hoi Ndi, calm down dong! Behave man..” Reaksi Rama cuma gitu doang.
“Sorry Ram, cant help it. Okay,, lets get this straight.. Tadi lo nawarin gwe kerjaan, kemudian lo bilang kerjaannya buat gantiin Pak Firman, yang jabatannya Presiden Direktur itu?”
“Iya, emang kenapa?”
Oough, jadi gemes nih sama Rama. *Heei, I’m not gay!* Bisa-bisanya reaksinya cuma gitu doang, like things like this happen everyday. What the hell?
“Lo udah gila kali ya! Masa iya nyuruh gwe jadi Presdir? Gwe, Ram? Nyang booneng lo?” Kebiasaan lama bin jadul gwe keluar.
“Iyee, bawel banget sih lo kaya cewe. Emangnya kenapa sih? Anything’s wrong with that?”
“Absolutely! They all wrong! How could you even think about that?”
“Ndi, lo temen gwe. Daan, lebih dari itu, I know you! From all of the things and thoughts you’ve sharing with me, gwe tau lo bisa untuk ngisi posisi itu. Just that simple!”
“Hell yeah, you crazy! Ram, hello! This is me, Andi. Man with no experience AT ALL dalam dunia kerja. What do you expect from me?” Aku menekankan kata ‘at all’.
“Yeah, I realize that, you stu! It doesn’t matter if you have no experience, justru ini bakal jadi pengalaman lo. Yang dibutuhin disini bukan pengalaman, its all about hard and smart working, conceptual skill, that I believe you have it, problem solving and decision making, dan karisma sebagai pemimpin. Yah, ga usah karisma sih, jiwa kepemimpinan aja deh, karisma kebagusan buat lo!”
“Okay, anggap aja gwe punya semua yang lo bilang itu. Tapi gimana dengan keterbatasan gwe? Pengalaman itu penting tau, buat orang jadi lebih ‘jago’. What if kalo ada suatu masalah dan gwe ga bisa menyelesaikannya? Or even worse, gimana kalo sejak awal gwe pimpin, perusahaan itu jadi rugi? Btw, forgot to asked, perusahaan apaan sih?” Aku baru sadar, dari tadi main ngomong-ngomong aja, padahal aku ga tau perusahaan apa.
“TorQue Inc, konstruksi bangunan. Lo tau kan? Lagian itu masih bidang lo kan? S1 lo teknik sipil, rite? Dan ditambah lagi S2 lo dibidang Human Resources, that makes you have a value added.”
“Hah? That TorQue? You know it’s a biiig construction company.. Why take a risk?”
“Ndi, please deh. Kok lo jadi cupu gini sih? Lo sendiri yang dulu bilang ke gwe, jangan pernah takut sama sesuatu yang belum pasti terjadi. Gimana sih lo?”
“Bukan gitu Ram. Tapi ini bener-bener a big thing for me. Emang sih gwe akuin gwe takut ga sanggup menanggung beban itu, tapi ketakutan itu kan beralasan. Dulu gwe bilang jangan takut sesuatu yang belum tentu terjadi kalo ga beralasan, atau alasannya ga cukup kuat. Sementara, alesan gwe kan jelas. Gwe ga punya pengalaman sama sekali, sementara di job desc yang pernah gwe liat dikantor temen gwe, syarat untuk jadi Presdir itu pengalaman 15 tahun. LIMA BELAS tahun, Ram!” Aku menjelaskan alasanku pada Rama yang begitu keras kepala.
“Ndi, sekali lagi gwe bilang, pengalaman emang penting, bukan segalanya. Bukannya para entrepreneur, seperti halnya diri lo, juga pada awal usahanya ga punya pengalaman? Daan, well, whether this makes you feel better, gwe juga jadi CEO tanpa pengalaman. And, not like you, gwe ga punya pilihan untuk menolak..”
Aku terdiam beberapa saat. Begitu pun dengan Rama. Ohya, aku lupa, dia juga saat ini memimpin perusahaan inti group Savoir-Faire, Cured-First Pharmacy. Dan tentu saja bebannya sangat berat, dari kecil dia sudah difokuskan untuk melanjutkan usaha itu, tidak mempunyai pilihan seperti aku, yang dibebaskan oleh ayahku menentukan masa depanku sendiri.
“Oh ya, kenapa bukan Raka aja yang lo tawarin?” Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Raka adalah temanku sewaktu kuliah S1 dulu, yang kebetulan merupakan sepupu Rama. Dan sebagai informasi tambahan, Raka adalah mahasiswa terbaik diangkatanku, lulus 3,5 tahun dengan predikat cum laude. Sementara aku, lulus 5 tahun, dengan IPK standar, hump,, ok, dibawah standar malah, hehe.. Jangan ditanya berapa tepatnya. Karena ketika S1, aku memang benar-benar tidak pernah belajar, dan baru menyadari betapa gawatnya keadaanku ketika semester 8, saat semuanya terlambat, hehe.. Namun, aku memperbaiki semuanya di S2-ku, dengan usaha yang ruarr biasa, akhirnya aku pun mendapat predikat cum laude.
“Udah. Emang tadinya dad mau dia, tapi dia ga mau. Dia lebih senang dengan kerjaannya di McDermott itu, yang membawanya ke berbagai negara.”
“Ooowh..” Aku ber-oo panjang, kemudian kembali terdiam. Aku mencerna kembali semua yang kami perdebatkan tadi. This is absolutely insane! Sebenernya sih aku mau aja nerima kerjaan dari Rama, tapi jadi Presdir? Yeah, I know, it is a miracle and also an amazing luck for me, not everyone can have this chance,, but.. Chairman? Perusahaan kan bukan sesuatu yang main-main, ga bisa sembarangan jadi pemimpin disitu. Aku dulu memang bercita-cita suatu saat nanti membuka perusahaan, dimana aku menjadi pemimpin perusahaan itu, tapi bukan kaya gini caranya. Aku mau perusahaan itu milikku sendiri. Setidaknya beban yang kutanggung jika mengalami kerugian atau pailit lebih sedikit jika dibanding rasa ‘ngga enak’ kepada bokapnya Rama. Kalau itu perusahaanku, aku hanya bertanggung-jawab kepada karyawan-karyawanku, dan juga kepada pemegang saham. Tidak ada kewajiban ‘melapor ke atasan’ untuk melaporkan kegagalanku. Itu beban yang menurutku paling berat. Namun, disisi lain, sekali lagi, Rama benar, this is my chance. Untuk belajar cara memimpin yang benar, untuk mendapatkan pengalaman jadi pemimpin, dan juga ini kesempatan besar, yang hanya datang sekali seumur hidup. So, what should I’m gonna do now?
“Hoi Ndi, gimana jadinya? Will you dare to take this shot?”
“Gwe bingung Ram, lagi dilema nih, diantara dua pilihan..”
“Heeii, its so not you.. Where is the Andi that I know? Yang selalu PD, selalu berani ngambil kesempatan, yang ga pernah bimbang.”
“Ngarang aja lo Ram, mana mungkin orang ga pernah bimbang? Pernah kalee, cuma gwe aja ga pernah menunjukkan depan orang.”
“Iyee, terserah lo dah. So, what’s your decision? Gwe mau laporan ke dad neh! Kalo lo mau, ntar kita ke tempat dad. Dia jago banget ngeliat aura orang, bukan aura beneran sih, but somekind like intuition about judging people characters only by one conversation, so be sure you give him a good impression.”
“Ooh, jadi kalo gwe mau belom tentu pasti diterima? Harus ketemu bokap lo dulu?”
“Ya iya kalee.. Lo ngarep aja, Ndi! Emang lo kira gwe boleh sembarangan nunjuk Presdir? Gwe cuma disuruh bokap ngasih rekomendasi doang.”
“Ooh gitu ya, Ram? Menurut lo gimana Ram? Gwe coba apa ngga ya?”
“Si geblek! Jelas-jelas gwe yang rekomendasiin lo, ya terima lah!”
Aku kembali terdiam untuk kesekian kalinya. Well, mungkin ini patut dicoba. Toh, pada akhirnya bokapnya Rama yang memutuskan. Sapa tau aja si Rama doang yang sotoy, ternyata bokapnya bilang aku tidak punya karakter buat jadi pemimpin yang baik.
“Ok, I’ve decided. For what its worth,, I think its worth to try..” Aku tersenyum lebar ke arah Rama.
“Hahah.. Gitu dong, Ndi dari tadi! Akhirnya, you’re back to Andi that I know! Ok, kita ke bogor yuk, ketemu dad..”
“Hah, langsung ketemu sekarang?” Aku melongo dengan muka bego.
“Iya, kenapa emang? Sooner is always better than later, kan? Like you always said!”
Tok, tok, tok. Ketukan pintu itu mengembalikan aku kedalam kantorku. Aku menoleh ke arah pintu, tanpa kupersilahkan masuk, pintu itu sudah dibuka dari luar dan muncullah sesosok penjahat yang tidak tahu sopan santun itu.
“Hoi bro, hows everything goin’ in here?” Rama berjalan kearahku dan menepuk pundakku. Nih orang, kaya ABG aja! Mana pake senyum-senyum ga jelas banget lagi, ga tau orang lagi panik apa!
“Ngapain lo Ram kesini?”
“Bosen dikantor. Mending ngeliatin lo pidato aja, hehe..”
“Dasar lo, boss apaan tuh kabur-kaburan melulu kerjaannya!”
“Biarin, namanya juga boss, hehe.. Btw, liat pidato lo dong!” Rama langsung menarik kertas yang sedang kupegang tanpa bisa kucegah. Ia membaca cepat, kemudian berkata, “Hahah.. Typical Andi. Ya udah, good luck deh pidatonya.”
Ketika Rama selesai berkata seperti itu, kembali terdengar ketukan pintu.
“Masuk..” aku menyahut seperti sebagaimana seharusnya.
Riri, sekertarisku, masuk. “Pak, semua staff sudah berkumpul di aula bawah. Hanya tinggal menunggu Bapak untuk memulai acara.”
Aku melirik jamku, oh shit, udah jam sebelas! “Ok Ri, saya kesana sebentar lagi.”
“Hohoho, Pak Presiden Direktur mau beraksi nih, ayo, silahkan Pak, jalan duluan, hehe..” Rama menggodaku dengan ekspresi excited abis, kaya anak kecil menemukan mainan baru.
“Sial lo, Ram! Nervous niy..” Namun tetap saja aku berjalan menuju aula bawah, diikuti oleh Rama. Di depan pintu masuk aula, terlihat beberapa orang yang kukenali sebagai para direktur-direktur utama. Semua menyalamiku, dan juga Rama, kemudian mempersilahkan kami memasuki ruangan. Akhirnya kami semua berjalan masuk menuju ke dalam ruangan aula, dan langsung menuju ke depan. Rama duduk disebelahku, dan para direktur-direktur utama itu pun duduk di sofa belakangku. Aku merasa semakin gugup, duduk di depan seratusan orang dihadapanku, yang merupakan stafku sendiri. Tak berapa lama, Pak Rudi, staf PR, yang sedang bertugas sebagai pembawa acara ini, mempersilahkanku untuk memberi sambutan atau perkenalan kepada seluruh staf perusahaan ini. Rasa tidak PD menyelimuti sekujur tubuhku, aku berdiri dan berjalan menuju podium seperti mati rasa, tidak dapat merasakan apa-apa. Aku bahkan tidak dapat menangkap kata-kata yang dilontarkan Rama kepadaku. Aku sudah berdiri di podium, perasaanku mengatakan seluruh mata diruangan ini menatapku, membuatku bertambah nervous. Aku bersyukur karena bukan merupakan tipe orang yang mudah mengeluarkan keringat, sehingga aku tidak dibanjiri keringat. Tetapi, tetap saja aku seakan tidak mampu menatap lurus ke depan. Rasa percaya diriku lenyap sama sekali, aku merasa tidak dapat melakukan apa pun. Tetapi entah bagaimana caranya, aku berhasil mengucapkan salam, dan dilanjutkan dengan membaca pidatoku. Mulutku seakan punya kekuatan sendiri dan beraksi tanpa sepengetahuan otakku. Aku mulai membaca pidatoku, sampai dimana suatu titik rasa percaya diriku dan rasa rileksku kembali. Lambat laun aku mulai berhasil mengatasi keadaan, aku mulai mendengar apa yang diucapkan mulutku sendiri.
“… Walau pun disini saya menjabat sebagai pimpinan tertinggi, tetapi jangan menganggap saya sebagai bos atau atasan yang harus dihormati. Anggap saja saya sebagai partner atau rekan kerja. Bahkan karena bapak-bapak sekalian yang berada dihadapan saya, dan juga tentunya Bapak-Bapak Dewan Direksi disebelah kiri saya, lebih berpengalaman dari saya, maka, justru saya yang mohon bimbingannya …”
“… Saya pribadi, walau tidak dapat berjanji akan dapat menjadi pemimpin yang baik, atau dapat memajukan perusahaan ini menjadi lebih baik, tetapi saya akan berusaha sekuat tenaga untuk itu. Untuk itu, sekali lagi, saya mohon bantuan dan kerja sama dari Bapak-Bapak sekalian …”
“… Saya kira cukup sekian saja apa yang perlu saya sampaikan pada kesempatan perdana ini, terima kasih untuk perhatiannya, dan untuk terakhir kalinya, saya mohon kerja samanya. Terima kasih.”
Akhirnya aku berhasil menutup pidatoku, dan aku kembali ke kursiku. Aku mendengar applause menggema diseluruh ruangan, aku pun menghembuskan nafas lega.
“Heeii, great speech man!” komentar Rama ketika aku sudah menghempaskan tubuhku ke sofa yang empuk ini.
“Ah, masa sih? Perasaan gwe grogi abis-abisan deh. Emang ga keliatan?” Aku agak-agak tidak mempercayai ucapan Rama barusan.
“Ngga kok, biasa aja. Walau pun lebih cool gwe waktu pidato awal gwe dulu, tapi lo lumayan cool laah. Congrats yap!”
Walau Rama memulai kenarsisannya, I don’t care! Yang penting menurut Rama, aku lumayan terlihat cool, alih-alih terlihat nervous. Great!
Pak Rudi kembali menuju podium dan membubarkan orang-orang dengan kalimat lets-get-back-to-work-nya. Seluruh isi ruangan pun keluar dengan tertib, sepertinya kembali ke tempat kerjanya masing-masing, aku pun berjalan ke arah ruanganku, diikuti Rama, dan juga beberapa direksi. Namun Rama menginstruksikan mereka untuk tidak menggangguku dahulu, sehingga mereka pun memisahkan diri dari kami.
“Whuaah, finally its over!” Aku berkata setengah berteriak ketika sudah berada kembali diruanganku dan duduk di sofa tamu.
“Yeah, rite. One down, more to go, hehe..” Rama menimpali.
“Hell yeah, I know. It is just the beginning. So tell me, what should I do first?”
“Well, mana gwe tau. Lo tanya lah sama si Pak Imam, dia kan kemaren yang jadi CEO sementara buat gantiin Pak Firman. Sekarang udah balik ke jabatan semula, Direktur Operasional. Pokoknya buat rapat kecil lah, konsultasi bareng ma Direktur Finance, dan para-para direksi lain. Gwe tau lo ga bego, jangan sampe mau ditipu-tipu ma mereka ya..”
“Ok. Thanks for the advices. Don’t worry, I’ll try to handle it.”
“Sip deh. I trust you man!” Rama melirik jam tangannya. “Guess its time for me to go. Good luck ya, Ndi!”
“Ok deh. See ya later, Ram!”
Rama kembali menepuk pundakku, karena memang merupakan kebiasaannya, dan kemudian menghilang dibalik pintu ruang kerjaku. Setelah istirahat sekitar 15 menit, aku pun meminta tolong Riri untuk memanggil para anggota dewan direksi untuk rapat kecil diruanganku. 5 menit kemudian, rapat dimulai.
-xoxoxox-
Huhuw, akhirnya selesai juga hari yang panjang ini. Aku sudah berada dirumah, baru saja mandi dan membuang diriku ke tempat tidur. Rasanya begitu nyaman, seakan-akan aku sudah setahun tidak bertemu kasur. Aku tersenyum sambil mengingat-ingat kejadian hari ini. Mungkin aku terlihat sinting, senyum-senyum sendiri di kamar, tapi hari ini aku benar-benar senang, just like never felt this good. Aku merasa seolah-olah baru saja menyelesaikan sebuah misi penyelamatan dunia, hehe.. Well, ga segitunya sih emang, tapi rasanya hari ini aku sukses berat. Sepeninggal Rama tadi, aku rapat dengan para direksi, mencari tahu keadaan perusahaan saat ini. Semua direksi, kecuali Pak Imam, tampaknya benar-benar tulus membantuku. Keadaan perusahaan saat ini : Sedang menjalani 11 proyek, 1 proyek, sebuah gedung kantor di kawasan gatot subroto, sudah hampir selesai, tinggal finishing sedikit lagi, 9 proyek baik-baik saja, setidaknya sampai saat ini, dan 1 proyek, sebuah mall di Bogor, sangat bermasalah. Aku sampai memanggil Pak Surya, yang bertanggung jawab sebagai Project Manager mall tersebut, untuk mengetahui detail permasalahannya, dan kemudian Pak Imam mendahuluiku, tepatnya mewakili aku memarahinya, hehe.. Selain itu, segala sesuatu berjalan dengan baik disini. Pak Darmawan, Finance Director, melaporkan keadaan keuangan perusahaan, yang, pffiuuh, membuatku lega sekaligus takut. Keadaan keuangan sangat baik, tentu saja membuatku senang, namun disisi lain, perasaan takut mulai menjalariku, apakah aku dapat mempertahankan kondisi ini? Ah, aku tidak mau memikirkannya untuk saat ini. Riri, sekertarisku, banyak sekali membantuku hari ini, aku rasa hari ini merupakan hari tersibuknya selama dia bekerja, hehe.. Mulai dari mengambilkan arsip biodata dan grafik kinerja seluruh staf perusahaan ini, yang baru kuteliti sebagian, kemudian juga membuatkan janji untukku dengan Pak Firman, Presdir terdahulu yang kugantikan, dan juga membantuku dalam hal-hal kecil lainnya. Jadi kesimpulannya, hari ini aku sudah mengetahui sebagian besar keadaan yang terjadi di perusahaan. OK, laporan hari ini selesai. Aku pun menarik selimutku dan mulai memejamkan mata. G’nite!

